Ciputra: Wirausaha Tebas Korupsi dan Kemiskinan

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Kamis, 28/09/2017 20:45 WIB
Ciputra: Wirausaha Tebas Korupsi dan Kemiskinan Menurut Pemilik Grup Ciputra, contoh nyata mampunya wirausaha mengurangi korupsi dan kemiskinan bisa dilihat di Singapura. Jumlah wirausaha yang mencapai 10 persen, membuat negara itu bersih dari korupsi. (Ciputra.com/Boni Pramudya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu pengusaha terkaya di Indonesia Ciputra berpendapat, korupsi di tanah air bisa ditebas dengan memperbanyak wirausaha (entrepreneur) lokal. Pasalnya, korupsi merupakan upaya seseorang untuk menggapai kekayaan.

"Nah, kalau mereka berwirausaha kan jadinya tidak korupsi. Saya yakin akan berkurang, karena orang korupsi kan ingin kaya," ucap Ir Ciputra, Kamis (28/9).

Contoh nyata, menurut dia, terjadi di negara tetangga, Singapura. Negara tersebut, menurut Ciputra, hampir bersih dari aksi korupsi karena jumlah wirausahanya terbilang lebih banyak dibandingkan di Indonesia.


"Singapura kenapa nggak korupsi atau mengimpor? Karena jumlah wirausaha mereka lebih dari 10 persen. Bahkan, franchise dari mereka juga ditawarkan ke Indonesia," papar Ir Ciputra.

Dengan menjadi seorang wirausaha, menurut dia, seseorang akan mendapatkan kemerdekaannya setiap hari. Ia dapat melihat usahanya berkembang dari hari ke hari.


Memperbanyak wirausaha, menurut pria kelahiran 1931 ini, juga menyelematkan Indonesia dari kesenjangan antara yang miskin dan kaya. Pasalnya, usaha jenis Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) akan membantu masyarakat mengembangkan potensinya.

"Wirausaha menciptakan ekonomi yang kuat," imbuh dia.

Ia menambahkan, lapangan pekerjaan pun akan tercipta semakin luas, sehingga jumlah pengangguran di Indonesia semakin berkurang.

Ciputra pun bercerita, semangat wirausaha sudah ditanamkan keluarganya sejak sangat muda. Keluarganya telah menyuruhnya untuk memulai usaha sejak ia duduk di sekolah dasar (SD).


Tak sia-sia, kini usahanya di bidang properti terbilang besar. Nama Ciputra Grup sebagai pengembang properti tak hanya bergerak di Indonesia, melainkan juga di Singapura dan Hanoi.

"Di Hanoi kami bangun 300 hektar (ha). Kemudian, proyek kami ada 130 proyek dari Sumatra Utara hingga Jayapura," ungkapnya.