Talk Fusion: Si Penguras Harta dan 'Peretak' Rumah Tangga

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Jumat, 29/09/2017 07:53 WIB
Talk Fusion: Si Penguras Harta dan 'Peretak' Rumah Tangga Satu korban Talk Fusion menyatakan, sempat ada konflik di keluarganya setelah Satgas Waspada Investasi menyetop kegiatan usaha Talk Fusion pada awal tahun. (Foto: REUTERS/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia -- Talk Fusion mungkin saja tak hanya menggerogoti pundi-pundi harta benda, namun juga hubungan antar keluarga dan teman.

Ini yang terjadi pada salah seorang ‘korban’ investasi bodong Talk Fusion di Bandung.

NF, salah satu korban Talk Fusion menyatakan, sempat ada konflik di keluarganya setelah Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi menyetop kegiatan usaha Talk Fusion pada awal tahun ini.


Bahkan, rumah tangganya hampir retak karena saling menyalahkan.

"Kalau uang jelas rugi, tapi di luar itu lebih rugi besar lagi," kata NF kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan lalu.

Pengembang asal Bandung itu mengatakan dirinya tak lagi dipercaya oleh teman-temannya yang juga bergabung di Talk Fusion dan menjadi downline-nya.

Bahkan, hubungannya dengan beberapa kolega bisnis ikut hancur seiring masalah ini berjalan.

"Bisnis saya jadi mandek dong. Itu yang terjadi," katanya.

Selain itu, tak sedikit pula saudara NF yang menyalahkannya karena untung dari bisnis Talk Fusion tak sesuai dengan yang diiming-imingi. Dia mengungkapkan sudah ada beberapa mitranya yang meminta ganti rugi.

"Banyak yang minta ganti rugi. Jadi kan saya setor modal Rp2 miliar, lalu uang yang saya setor tidak kembali, kemudian ditambah saya harus balikin ke downline," katanya.

Namun, ia belum membayarkan sepenuhnya kepada seluruh downline nya.

Ia masih menjanjikan kepada beberapa downline. NF berharap ada penyitaan yang dilakukan kepolisian terhadap manajemen yang membawa Talk Fusion ke Indonesia, yakni VTrust.

"Masih ada sebagian yang belum, kan kadang-kadang uangnya belum ada. Jadi masih saya janjikan," ungkap NF.

Korban lainnya yang juga berasal dari Bandung, Diana Dewi juga telah merogoh kantongnya lebih dari Rp1 miliar untuk mengganti rugi kepada beberapa downline -nya.

Kini, Diana masih dalam proses mengganti uang tersebut.

"Kenapa saya gantikan uang itu? karena daripada saya dibilang penipu, lebih baik saya mengembalikan uangnya," jelas Diana.

Namun, baik NF dan Diana sendiri tak menampik jika keduanya telah mendapatkan untung atau bonus dari bisnis Talk Fusion.

Hanya saja, jumlah bonus itu belum menutup total modal yang dikeluarkan oleh NF dan Diana.

"Jadi kalau ditanya saya punya untung ya iya punya, tapi uang itu saya kembalikan lagi. Jadi untung apa saya," ucap Diana.

Sementara itu, NF mengatakan bonus yang dibayarkan oleh Talk Fusion sebenarnya hanya perputaran uangnya sendiri dari yang sebelumnya sudah lebih dulu ia setorkan.

Bila ditotal, bonus yang dia raih dari Talk Fusion baru sekitar 9 persen-10 persen dari total modalnya.

Berbeda, korban Talk Fusion lainnya, Indarti mengaku enggan mengganti uang downline.

Dokter asal Bandung tersebut menilai, jika ia bersedia mengganti uang ganti rugi yang dituntut downline nya, maka sama saja ia mengakui dirinya salah.

"Saya bilang ke mereka, saya akan buktikan kalau saya tidak salah. Saya juga tidak menipu," ujar Indarti.

Kendati demikian, ia kerap memberikan pinjaman dana kepada downline nya karena rasa iba.

"Ya sudah misalnya saya pinjamkan Rp10 juta-Rp20 juta. Ini di bawah tanganlah, kasihan," kata dia.