Upah Buruh Selamat dari Tekanan Inflasi September

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 17/10/2017 02:46 WIB
Upah Buruh Selamat dari Tekanan Inflasi September Rerata upah buruh tani dan buruh bangunan di Indonesia meningkat tipis pada September 2017, meski ada tekanan dari kenaikan harga kebutuhan. (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha).
Jakarta, CNN Indonesia -- Rerata upah buruh tani dan buruh bangunan di Indonesia meningkat tipis pada September 2017, meski ada tekanan dari kenaikan harga kebutuhan atau inflasi 0,13 persen secara nasional pada bulan yang sama.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai upah buruh tani secara nominal naik 0,27 persen menjadi Rp50.213 per hari, sedangkan nilai upah secara riil naik 0,54 persen menjadi Rp37.711 per hari.

Kepala BPS Suhariyanto menilai, besaran upah secara nominal dan riil masih meningkat karena kondisi deflasi di beberapa wilayah pada bulan lalu telah mengompensasi kenaikan harga atas upah buruh secara nasional.



"Khususnya upah riil naiknya cukup tinggi karena pada September 2017 ada deflasi di perkotaan sebesar minus 0,27 persen," ujar Ketjuk, sapaan akrabnya di Kantor BPS, Senin (16/10).

Sementara itu, untuk upah buruh bangunan naik tipis 0,02 persen menjadi Rp84.378 per hari. Namun, secara riil turun 0,11 persen menjadi Rp64.867 per hari.

Ia bilang, secara nominal, upah buruh bangunan memang selamat dari tekanan inflasi. Meski, secara riil masih harus mendapatkan tekanan. "Kalau yang ini karena ada inflasi di perkotaan sebesar 0,13 persen," terangnya.

Sementara itu, upah buruh potong rambut wanita secara nominal tercatat juga naik 0,25 persen menjadi Rp25.849 per kepala dan secara riil sebesar Rp19.872 per kepala atau naik hingga 0,12 persen.

Selanjutnya, upah pembantu rumah tangga secara nominal naik 0,84 persen menjadi Rp380.968 per bulan dan secara riil naik 0,71 persen menjadi Rp290.872 per bulan.

Adapun pada September lalu, BPS mencatat, ada inflasi 0,13 persen lantaran meningkatnya iuran pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 1,03 persen dengan andil sebesar 0,08 persen terhadap total inflasi nasional.

"Faktor yang memberi andil inflasi adalah uang kuliah sebesar 0,04 persen. Sedangkan untuk uang sekolah SD, SMP, dan SMA sebenarnya sudah tercermin di bulan lalu, tapi naik tipis 0,01 persen," kata Ketjuk.

Sedangkan kelompok bahan makanan justru mengalami deflasi minus 0,53 persen dengan andil sebesar minus 0,11 persen.

"Beberapa komoditas yang menyumbang deflasi ialah bawang merah, bawang putih, telur ayam ras, tomat sayur, cabai, bayam, kangkung, semangka," jelasnya.