Pengusaha Ramal Pertumbuhan Ritel Tahun Ini Melemah

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 17/10/2017 11:39 WIB
Pengusaha Ramal Pertumbuhan Ritel Tahun Ini Melemah Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memprediksi pertumbuhan industri ritel hingga akhir tahun ini lebih rendah dari capaian 2016 sebesar 9 persen. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memprediksi pertumbuhan sektor ritel maksimal sebesar 8 persen hingga akhir tahun nanti. Angka ini lebih kecil dibanding posisi 2016 dengan pertumbuhan 9 persen.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey beralasan, kondisi ini disebabkan karena tiap golongan masyarakat masing-masing mengalami anomali dari pola konsumsi.

Untuk kelas menengah ke bawah, contohnya, saat ini konsumsinya masih belum membaik lantaran pendapatan riilnya masih tertekan. Sebagai gambaran, ia mencontohkan upah riil buruh di bulan Agustus yang berada di angka Rp37 ribu per hari, padahal tiga tahun sebelumnya upah riil mencapai Rp39 ribu.



Tentu saja, hal itu berimbas pada kinerja sektor ritel. Apalagi pada semester I lalu, konsumsi rumah tangga 40 persen penduduk berpendapatan rendah hanya menyumbang 17 persen konsumsi rumah tangga nasional.

“Harga komoditas tak bertambah, hasilnya upah segmen menengah ke bawah tidak berubah,” ujar Roy, Senin malam (16/10).

Sementara itu, di segmen kelas menengah ke atas, terdapat perubahan pola konsumsi di mana masyarakat lebih senang membelanjakan uangnya dalam rangka mengisi waktu luang (leisure). Selain itu, kini masyarakat juga tidak belanja terlalu banyak dan cenderung menggunakan sebagian pendapatannya untuk menabung.

Hal itu terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) bulan Juli 2017 yang bertumbuh 9,75 persen ke angka Rp5.032,68 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp4.585,38 triliun.

“Artinya sektor ritel tetap masih tumbuh, tapi melambat. Lebih rendah dibanding tahun lalu karena banyak hal yg terjadi di tahun ini,” tambah Roy.


Roy menilai kondisi ini akan kembali berlanjut di tahun depan karena menjelang tahun politik. Menurutnya, berdasarkan tren, masyarakat akan menahan belanja dan menyimpan uangnya demi mengantisipasi berbagai kemungkinan menjelang Pemilihan Umum.

“Tapi kalau kami lihat, pemerintahan sekarang lebih solid. Kalau semua berjalan lancar, semua bisa lebih baik,” pungkasnya.

Hingga semester I kemarin, pertumbuhan sektor ritel tercatat di angka 3,7 persen. Angka ini lebih kecil dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni di atas 10 persen.