Okupansi Mal Stagnan 88,56 Persen pada Kuartal III

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Kamis, 12/10/2017 00:45 WIB
Okupansi Mal Stagnan 88,56 Persen pada Kuartal III Head of research Jones Lang Lasalle (JLL) James Taylor mengemukakan, tingkat serapan penyewaan pertokoan di mal tercatat sebesar 20.100 per meter persegi pada kuartal III/2017. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tingkat okupansi mal sampai kuartal III 2017 diestimasi stagnan pada level 88,56 persen dibanding kuartal sebelumnya, dengan minat sektor makanan dan minuman (food and beverage) yang masih atraktif.

James Taylor, Head of research Jones Lang Lasalle (JLL), perusahaan konsultan properti mengemukakan, tingkat serapan penyewaan pertokoan di mal tercatat sebesar 20.100 per meter persegi pada kuartal ketiga tahun ini.

Tercatat, sektor makanan dan minuman masih menjadi bisnis yang paling atraktif sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Pasalnya, mal masih menjadi tujuan masyarakat untuk berkumpul pada akhir pekan.



"Saat ini ekspansi F&B tidak hanya terjadi di pusat perbelanjaan, tetapi juga di area residensial dan gedung perkantoran," terang James, Rabu (11/10).

James menambahkan, jumlah serapan penyewaan toko sebenarnya meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya, karena adanya pasokan baru sebesar 60 ribu meter persegi, yakni AEON di perumahan Jakarta Garden City, Jakarta Barat.

Berdasarkan data JLL, total persediaan yang ditawarkan hingga kuartal ketiga ini sebesar 2,9 juta meter persegi. Sementara itu, JLL memprediksi jumlah persediaan bertambah 106 ribu meter persegi dalam waktu dekat.

Terkait harga, lanjut James, pengelola mal masih menawarkan harga sewa moderat kepada tenant sebesar Rp494.717 per meter persegi per bulan. Angka ini diprediksi tidak tumbuh signifikan hingga tahun depan.

"Untuk okupansi diperkirakan tetap tinggi dan stabil di angka 90 persen," imbuhnya.


Meski tidak mengalami perubahan yang signifikan, James menyebut kondisi ini masih terbilang sehat. Namun, peritel F&B juga perlu cermat dalam melihat peluang agar dapat berkompetisi dengan peritel lainnya.

"Restoran atau kafe saat ini tidak hanya menyajikan makanan dan minuman lezat tetapi juga mampu menyediakan fasilitas internet dan memakai desain interior unik," papar James.