Mendag Nasehati Pengelola Mal Tak Kalah dengan 'Online Shop'

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 31/08/2017 09:43 WIB
Mendag Nasehati Pengelola Mal Tak Kalah dengan 'Online Shop' Misalnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyarankan, pusat perbelanjaan menyajikan yang berbeda untuk menarik pengunjung. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong pengelola pusat perbelanjaan (mal) untuk berbenah, jika tak ingin ditinggalkan pengunjung. Maklumlah, saat ini pola belanja masyarakat mulai mengarah ke online, seiring dengan perkembangan teknologi.

"Dalam rangka persaingan online dan offline harus ada sesuatu yang beda," ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat berkunjung ke Pasar Kreasi Indonesia di Plaza Indonesia, Rabu (30/8).

Menurut Enggartiasto, pelaku usaha tidak bisa menafikan tren belanja online yang sedang mekar. Karenanya, jika pusat perbelanjaan luring (offline) ingin bersaing, pusat perbelanjaan dituntut untuk bisa menarik konsumen tidak hanya melalui produk-produk yang dijual.


Namun, pusat perbelanjaan juga dituntut mampu menciptakan suasana yang berkesan, sehingga menarik dan membuat betah pengunjung. Misalnya, dengan komposisi penyewa (tenant) yang beragam, serta area kuliner yang lengkap dan menarik.

Tak hanya itu, pusat perbelanjaan secara periodik juga bisa menggelar acara-acara khusus yang mengundang perhatian khalayak ramai.

"Sudah ada pergeseran di mal atau pusat perbelanjaan, di mana sekarang mal sudah menjadi tempat hang out (nongkrong). Kalau hanya sekadar belanja, konsumen ada kemudahan untuk melakukannya secara online," terang Enggar.

Konsep penjualan produk juga harus lebih bervariasi. Misalnya, penjualan tidak hanya di gerai, tetap tetapi juga di toko dadakan (pop-up store) untuk produk kreatif dari berbagai daerah.

Ragam produk yang unik dan kreatif bisa mengundang pengunjung untuk datang dan melihat langsung. Pengalaman ini berbeda dengan hanya melihat gambar di toko online.

"Dengan ada pemberitaan saja, misalnya ada produk-produk daerah yang dijual, ada keinginan mereka (pengunjung) untuk datang," katanya.

Di tempat yang sama, Ketua Yayasan Plaza Indonesia (PI) Arnes Lukman mengungkapkan, pihaknya belum merasa tersaingi dengan menjamurnya toko online. Pasalnya, di Indonesia, pusat perbelanjaan juga dianggap sebagai pusat hiburan atau rekreasi bagi masyarakat.

"Di Indonesia, mal kan juga tempat rekreasi, tempat orang berkumpul dan juga berkreasi," imbuh Arnes.

Selain itu, PI juga telah memiliki pasar tersendiri, yaitu kelas premium. Tak ayal, tingkat okupansi pusat perbelanjaan ini penuh, terutama oleh penyewa (tenant) produk bermerek. Bahkan, beberapa calon tenant bersedia antre masuk daftar tunggu.

Kendati demikian, lanjut Arnes, pihaknya terus melakukan inovasi agar tetap menarik pengunjung. Misalnya, desain interior yang menarik dan mengadakan acara musiman setiap kali ada peringatan khusus seperti perayaan kemerdekaan, Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru.

Tak hanya itu, PI juga menyediakan ruang bagi pelaku industri kreatif untuk mempromosikan produknya. Dengan demikian, pengunjung memiliki pilihan produk yang beragam.