Yusuf Mansur Juga Incar Bisnis Pengiriman Uang Internasional

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 19/10/2017 15:16 WIB
Tak hanya berencana merilis produk reksa dana, ustaz bernama asli Jam'an Nur Chotib ini juga mengincar bisnis remitansi, khususnya untuk TKI. Tak hanya berencana merilis produk reksa dana, ustaz bernama asli Jam'an Nur Chotib ini juga mengincar bisnis remitansi, khususnya untuk TKI. (Detikcom/Hasan Alhabshy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ustaz Yusuf Mansyur, yang bernama asli Jam'an Nur Chotib melalui salah satu entitas usahanya PT Paytren Asset Management (PAM) bakal segera merilis produk investasi reksadana. Tak hanya itu, ia juga mengincar bisnis remitansi.

Sebelumnya, PAM merupakan perusahaan manajer investasi di bawah PT Veritra Sentosa Internasional, perusahaan pemilik aplikasi mobile Paytren.

"Kami pilih reksa dana karena salah satu investasi yang paling mudah, konsepnya sama seperti tabungan bisa dicairkan sewaktu-waktu," tutur Yusuf dalam konferensi pers semalam, Rabu (18/10) malam.



Saat ini, pihaknya masih menanti terbitnya izin usaha PAM dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dua minggu setelah izin keluar, PAM langsung memasarkan dua produk reksa dana berupa reksa dana pasar uang syariah dan reksa dana pasar modal syariah.

Selain dipasarkan melalui aplikasi PayTren, entitas usaha juga akan menggandeng agen penjualan lain yang berasal dari perbankan.

Menurut Yusuf, pasar reksa dana syariah cukup besar. Pengguna aplikasi Paytren saja saat ini telah mencapai 1,6 juta pengguna. Jika setiap pengguna berinvestasi reksa dana Rp100 ribu saja total dana kelolaan bisa mencapai Rp160 miliar.

"Pengguna PayTren 1,6 juta nih. Saya tinggal bilang ke mereka, 'buka reksa dana dong'," ujarnya.

Selain reksa dana, Yusuf juga mengincar bisnis remitansi, atau pengiriman uang dari luar negeri. Yusuf berharap kehadiran perusahaannya bisa menekan biaya remitansi yang harus dikeluarkan oleh TKI.

Untuk mewujudkan rencana itu, Yusuf mengaku tengah menyelesaikan proses akuisisi sebuah perusahaan yang belum bisa dipublikasikan. Dalam jual beli tersebut, Yusuf mengaku tidak mengeluarkan uang untuk membeli saham kepemilikan.


Namun, Yusuf menjual sosoknya yang memiliki banyak jaringan dan kompetensi yang dimilikinya dalam melihat peluang.

Karenanya, timnya harus mengkaji ketentuan pembayaran pajak dari proses jual beli tersebut agar tidak melanggar ketentuan.

"Untuk akuisisi ini kami belum bisa umumkan karena pembeliannya berdasarkan power of networking and power of opportunity,"ujarnya. (gir/gir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK