Gubernur BI Agus Martowardojo mengemukakan, dana itu masuk melalui instrumen investasi Surat Utang Negara (SUN), pasar modal, dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Sedangkan investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) tidak termasuk.
Sejatinya, lanjut Agus, aliran modal asing tersebut ditopang oleh kepercayaan investor atas kondisi perekonomian yang terbilang positif tahun ini. Salah satunya bisa terlihat dari nilai tukar rupiah yang stabil di kisaran Rp13.500 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada 2016 rupiah terapresiasi 2,25 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rata-rata stabil rupiah di 2016-2017, ini baik untuk membangun ekonomi dan iklim investasi yang baik," papar Agus, Jumat (20/10).
Tak hanya itu, cadangan devisa (cadev) pada September kemarin juga menjadi indikator positif. Tercatat, cadev Indonesia mencapai US$129,4 miliar. Angka ini terbilang rekor tertingi sepanjang sejarah.
"Ada juga neraca jasa yang defisitnya besar, karena barang lebih banyak gunakan jasa transportasi dan asuransi dari asing maka banyak lakukan pembayaran ke luar negeri," jelas dia.
Sementara itu, indikator positif lainnya bisa dilihat dari inflasi September sebesar 0,13 persen secara bulanan dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga di angka 5,01 persen.
"Inflasi yang kemarin rendah, terutama saat lebaran saya apresiasi karena peran dari kepolisian tinggi sekali," ujar Agus.
Namun, tingginya capital inflow ini nyatanya terjadi di tengah maraknya aksi jual pelaku pasar asing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jika dilihat sejak awal tahun hingga perdagangan kemarin (19/10) atau secara year to date (ytd) jumlahnya mencapai Rp18,93 triliun.