Penyaluran Tenaga Kerja ke Mal Diakui Lesu

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 24/10/2017 07:40 WIB
Penyaluran Tenaga Kerja ke Mal Diakui Lesu Ilustrasi. (CNN Indonesia/Galih Gumelar).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan penyalur tenaga kerja kontrak (outsourcing) PT Integrated Service Solutions (ISS) Indonesia mengaku tak banyak menyalurkan pekerja ke pusat perbelanjaan (mal) pada tahun ini. Alasannya, perusahaan menilai bahwa bisnis mall mulai lesu.

EVP Head of Key Account Management ISS Indonesia Faisal Muzakki berpendapat, bisnis mal mulai lesu lantaran adanya peralihan pola konsumsi masyarakat dari yang semula senang berbelanja di toko ritel fesyen konvensional menjadi via dalam jejaring (online).

Hal ini membuat masyarakat lebih banyak mengunjungi mal untuk bertemu koleganya sembari menyantap hidangan restoran yang ada di mal. Sedangkan masyarakat yang datang ke mal untuk berbelanja mulai berkurang.



"Sebenarnya tahun ini tidak begitu lesu tapi ke depan sepertinya akan lesu. Karena berdasarkan analisa kami, orang banyak yang belanja online, jadi tenant di mal juga berkurang," ujar Faisal kepada CNNIndonesia.com, Senin (23/10).

Padahal, sambung Faisal, sebagian besar pendapatan mal lebih banyak berasal dari toko ritel. Sebab, dari total toko yang disewakan biasanya lebih banyak diisi oleh gerai ritel.

Alhasil, ini bisa mempengaruhi pendapatan mal, meski harga sewa yang harus dibayar ritel fesyen tetap masuk kantong. Namun, peralihan pola belanja masyarakat bukan tak mungkin membuat gerai ritel fesyen yang ada di mal banyak tutup.

"Sementara mereka (pengelola mal) kan harus tetap bayar biaya jasa. Itu dihitung per meter persegi. Jadi, biaya jasa ini akan memberatkan mall," katanya.

Adapun saat ini, menurutnya, penyaluran tenaga kerja ke mal hanya mengambil porsi sekitar lima persen dari total penyaluran pekerja ISS secara nasional.

Sedangkan di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), ISS hanya menyuplai tenaga kerja ke enam sampai tujuh mal.


"Biasanya mal premium yang ambil pekerja dari ISS. Untuk satu mal itu bisa sekitar 40 sampai ratusan pekerja ISS yang disalurkan," jelasnya.

Bersamaan dengan proyeksi lesunya bisnis mal itu, Faisal mengatakan, perusahaan lebih fokus menyalurkan tenaga kerja untuk proyek skala besar, misalnya ke bandara, proyek infrastruktur, hingga proyek-proyek lain yang digarap pemerintah.

"Misal kalau Bandara Soekarno-Hatta itu kami bisa suplai tenaga kerja sampai 1.000 orang. Jadi, lebih ke yang proyek dengan kebutuhan tenaga kerja besar yang kami bidik," pungkasnya.

Sebelumnya, terdapat beberapa gerai ritel fesyen yang ditutup, seperti tiga gerai Lotus Department Store, dua gerai Matahari Department Store, delapan gerai Ramayana, hingga gerai Debenhams Indonesia.

Kendati begitu, berdasarkan hasil Survei Bank Indonesia (BI) Agustus lalu, penjualan eceran atau ritel justru menunjukkan perbaikan. Tercatat, pertumbuhan penjualan eceran nasional naik 2,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Padahal, per Juli 2017, penjualan eceran masih terkontraksi minus 3,3 persen (yoy). Hal ini karena berakhirnya momen Ramadan dan Lebaran pada penghujung Juni.

Namun, survei BI mencatat bahwa pertumbuhan ritel lebih ditopang oleh kelompok makanan yang tumbuh hingga 7,9 persen (yoy) dari sebelumnya minus 0,3 persen (yoy) pada Juli 2017.

Sementara untuk kelompok ritel non makanan, pertumbuhannya membaik meski masih minus, yaitu dari sebelumnya minus 7,8 persen (yoy), kini menjadi minus 5,9 persen (yoy).