Bank Danamon Kantongi Laba Bersih Rp3,03 Triliun

Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Senin, 30/10/2017 19:48 WIB
Bank Danamon Kantongi Laba Bersih Rp3,03 Triliun Angka itu meningkat 21 persen kalau dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,51 triliun. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Danamon Tbk (BDMN) membukukan laba bersih sebesar Rp3,03 triliun hingga September 2017. Angka itu meningkat 21 persen kalau dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,51 triliun.

Direktur Keuangan Bank Danamon Vera Eve Lim mengatakan, kinerja positif ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih (net interest income) yang ikut tumbuh tiga persen dari Rp10,24 triliun menjadi Rp10,58 triliun.

"Pertumbuhan laba didorong pendapatan bunga bersih akibat dari proses transformasi yang sedang berlanjut, pengelolaan biaya operasioal yang baik, dan biaya kredit yang lebih rendah," terang Vera, Senin (30/10).


Lebih lanjut ia memaparkan, biaya kredit perseroan pada kuartal III 2017 tercatat sebesar Rp2,5 triliun atau turun signifikan 25 persen, yaitu dari Rp3,36 triliun. Di sisi lain, perseroan mempertahankan beban operasional di kisaran Rp6,39 triliun.

"Pada saat yang sama, biaya dana atau cost of fund menurun sejalan dengan pembenahan pada pendanaan dan peningkatan rekening tabungan," katanya.

Adapun, penurunan cost of fund terjadi akibat beberapa faktor. Salah satunya pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) yang naik lima persen menjadi Rp47,8 triliun, sedangkan deposito melorot sembilan persen menjadi Rp52,7 triliun.

"Rasio CASA tumbuh menjadi 47,5 persen dari 43,9 persen dari tahun sebelumnya," imbuh dia.

Sementara itu, penyaluran kredit peseroan, diluar kredit mikro, tumbuh lima persen atau menjadi Rp126,4 triliun dari Rp118,7 triliun. Apabila mengikutsertakan portofolio kredit mikro, pertumbuhan hanya sekitar dua persen.

Vera menambahkan, kredit untuk portofolio Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Enterprise dan Mortgage tercatat tumbuh, di mana UKM naik 10 persen. Sedangkan, kredit pada portofolio enterprise meningkat tujuh persen dan mortgage 31 persen.

Sejalan dengan itu, total kredit bermasalah (non performing loan/NPL) turun enam persen menjadi Rp3,9 triliun. Kemudian, untuk rasio kredit bermasalahnya sendiri tercatat pada posisi 3,3 persen dengan rasio biaya kredit sebesar 2,6 persen.

Dari sisi rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sendiri, perseroan mencatat posisi 22,3 persen atau tumbuh tipis 0,8 persen dari sebelumnya di posisi 21,4 persen. Sayangnya, jumlah aset perusahaan berkurang menjadi Rp173,67 triliun, turun satu persen dari sebelumnya Rp174,68 triliun.