Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, kenaikan laba bersih ditopang oleh kinerja kredit perseroan yang bertumbuh 9,8 persen menjadi Rp686,15 triliun pada akhir September 2017.
Selain itu, kualitas kredit juga membaik. Tercatat, rasio kredit bermasalah (Nonperforming Loan/NPL) gross sebesar 3,75 persen. Sebelumnya, NPL perseroan mencapai 3,81. Sedangkan NPL net sebesar 1,04 persen, turut membaik dari semula 1,27 persen secara tahunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan segmen kredit, ia merinci, banyak mengalir ke kredit modal kerja, dengan pertumbuhan sebesar 3,9 persen menjadi Rp321,4 triliun.
Lihat juga:BI Desak Perbankan 'Irit' Biaya Operasional |
Lalu, kredit ke sektor transportasi sebesar Rp36,4 triliun, kelistrikan Rp27,4 triliun, migas dan energi terbarukan Rp17,2 triliun, konstruksi Rp12,2 triliun, perumahan rakyat dan fasilitas kota Rp 10,3 triliun, telematika Rp9,6 triliun, serta jalan raya dan tol Rp9,4 triliun.
Sedangkan, kredit pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebesar Rp78,1 triliun. “Sebagai agen pembangunan, kami juga terus menjaga konsistensi dalam mendukung program-program pemerintah baik untuk penguatan ekonomi maupun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Bersamaan dengan perbaikan kinerja itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik Rp71 triliun atau tumbuh 10,3 persen menjadi Rp761,5 triliun pada kuartal III 2017.
Pertumbuhan ini didorong oleh penghimpunan dana murah perbankan yang mencapai Rp492,52 triliun. Angka ini tumbuh sekitar 12,6 persen dari sebelumnya Rp437,29 triliun pada kuartal III 2016. “Hal ini membuat rasio dana murah terhadap total DPK mencapai 64,7 persen,” terang dia.
Begitu pula dengan aset, tercatat bertambah Rp103,5 triliun atau 10,6 persen dari kuartal III 2016 menjadi Rp1.078,7 triliun pada akhir September 2017.