BI 'Tutup Pintu' Turunkan Suku Bunga Acuan

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 31/10/2017 18:25 WIB
BI 'Tutup Pintu' Turunkan Suku Bunga Acuan Sejak Januari 2016, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 175 basis poin menjadi 4,25 persen hingga Oktober 2017. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menilai tidak ada lagi ruang untuk menyeret turun suku bunga acuan, BI 7 Days Reverse Repo Rate. Menurut BI, bunga acuan saat ini sudah sangat rendah dan mampu menjaga kestabilan moneter.

Sebagai catatan, sejak Januari 2016, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 175 basis poin menjadi 4,25 persen hingga Oktober 2017.

"Pelonggaran moneter, seperti penurunan suku bunga ruangnya sudah tidak ada karena sudah level yang rendah dibandingkan periode tahun-tahun sebelumnya," ujar Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara di Graha CIMB, Selasa (31/10).


Ia menilai, stimulus kebijakan masih bisa dilakukan dengan kebijakan makroprudensial yang tengah dikaji.

Misalnya, pelonggaran uang muka Kredit Pemilikan Rumah berdasarkan zonasi (LTV spasial) yang mampu memacu penyaluran kredit. 

Selain itu, BI juga mengkaji perubahan loan to funding ratio (LFR) menjadi loan to financing ratio  dengan memasukkan obligasi korporasi sebagai komponen intermediasi perbankan.

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan memaklumi jika ruang penurunan suku bunga acuan bank sentral makin terbatas. Mengingat, tingkat inflasi saat ini berada di level 3,5 hingga 4 persen.

Kendati demikian, terbatasnya peluang penurunan suku bunga acuan tidak menutup ruang penurunan suku bunga pasar. Saat ini, rata-rata suku bunga kredit perbankan masih ada di dua digit.

"Ruang penurunan suku bunga acuan memang terbatas, tetapi bukan berarti suku bunga pasar tidak bisa turun," kata Fauzi secara terpisah.

Ia mengungkapkan percepatan penurunan suku bunga perbankan bisa terjadi jika persaingan industri semakin ketat sehingga menciutkan Net Interest Margin (NIM) yang saat ini masih ada di kisaran 5 persen.

Selain itu, turunnya suku bunga bank juga bisa dipacu oleh tren penurunan imbal hasil dari instrumen obligasi negara yang dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap risiko di Indonesia. Semakin tinggi persepsi risiko, maka semakin tinggi imbal hasil atau premi risiko yang diharapkan.

Dengan mengantongi peringkat layak investasi dari tiga lembaga pemeringkat internasional, yaitu dari Fitch's, Moody's, dan Standard and Poor's, seharusnya persepsi investor terhadap risiko kredit Indonesia menjadi lebih rendah. Hal itu memungkinkan penurunan premi risiko dari obligasi pemerintah.