Sementara itu, secara tahun kalender (year to date), neraca perdagangan terbilang surplus US$11,78 miliar atau lebih tinggi dibandingkan Januari-Oktober 2016 yang sebesar US$7,65 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, surplus terjadi lantaran nilai ekspor pada bulan tersebut sebesar US$15,09 miliar. Sementara, nilai impornya berkisar US$14,19 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BPS Bakal Gelar Survei Penduduk di 2020 |
"Ekspor manufaktur month to month naik sebesar 2,44 persen, namun year on year 12,54 persen. Ada beberapa produk industri manufaktur yang nilai ekspornya naik, yaitu barang organik, sepatu, pulp, logam dasar mulia, konveksi dari tekstil," ujar Suhariyanto, Rabu (15/11).
"Ini karena ada peningkatan harga migas, batu bara, dan seng. Sementara, ada peningkatan harga juga untuk komoditas minyak kelapa sawit, minyak kernel, aluminium, dan minyak kedelai," terang dia.
Sementara untuk impor Oktober yang sebesar US$14,19 miliar juga meningkat 23,33 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, jika dilihat dari sisi penggunaan barang, sebagian besar impor ditujukan untuk barang baku yang tercatat US$10,77 miliar atau naik 25,75 persen. Ini disebabkan oleh impor raw sugar, termasuk ferochrome.
Secara kumulatif,, nilai ekspor Indonesia tercatat US$138,5 miliar atau naik 17,49 persen dari US$117,9 miliar dari tahun sebelumnya, di mana sebagian besar negara tujuan ekspor adalah China, Amerika Serikat, dan Jepang, dengan jumlah 34,26 persen.
Sementara untuk total nilai impor kumulatif, angkanya tercatat US$126,68 miliar di mana sebagian besar barang berasal dari Tiongkok 26,12 persen, Jepang 11,55 persen, dan Uni Eropa 9,34 persen. (bir)