Neraca Perdagangan RI Surplus US$900 Juta per Oktober

Galih Gumelar , CNN Indonesia | Rabu, 15/11/2017 11:49 WIB
Neraca Perdagangan RI Surplus US$900 Juta per Oktober Surplus terjadi lantaran nilai ekspor pada Oktober sebesar US$15,09 miliar. Sementara, nilai impornya berkisar US$14,19 miliar. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia kembali surplus sebesar US$900 juta secara bulanan (month to month/mtm) pada Oktober 2017. Realisasi ini lebih rendah kalau dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya sebesar US$1,76 miliar.

Sementara itu, secara tahun kalender (year to date), neraca perdagangan terbilang surplus US$11,78 miliar atau lebih tinggi dibandingkan Januari-Oktober 2016 yang sebesar US$7,65 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, surplus terjadi lantaran nilai ekspor pada bulan tersebut sebesar US$15,09 miliar. Sementara, nilai impornya berkisar US$14,19 miliar.

Nilai ekspor ini sebagian besar dikontribusi dari industri pengolahan senilai US$10,88 miliar atau tumbuh 12,44 persen secara year on year. Menurut dia, tren ekspor akhir tahun memang selalu meningkat, sehingga diharapkan bisa berkontribusi terhadap pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal IV.

"Ekspor manufaktur month to month naik sebesar 2,44 persen, namun year on year 12,54 persen. Ada beberapa produk industri manufaktur yang nilai ekspornya naik, yaitu barang organik, sepatu, pulp, logam dasar mulia, konveksi dari tekstil," ujar Suhariyanto, Rabu (15/11).

Meski manufaktur berkontribusi dari sisi porsi, pertumbuhan ekspor paling tinggi ternyata dipicu oleh hasil Sumber Daya Alam (SDA). Ia mencontohkan, ekspor migas yang naik 33,77 persen ke US$1,41 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini, lanjutnya, mengakibatkan nilai ekspor Indonesia naik 18,39 persen dibanding tahun lalu yang sebesar US$12,74 miliar.

Tak hanya itu, ekspor pertambangan dan lainnya juga meningkat signifikan 49,18 persen secara year on year karena perbaikan harga. Bahkan, sepanjang Januari-Oktober, pertumbuhan ekspor dari sektor ini tercatat 36 persen.

"Ini karena ada peningkatan harga migas, batu bara, dan seng. Sementara, ada peningkatan harga juga untuk komoditas minyak kelapa sawit, minyak kernel, aluminium, dan minyak kedelai," terang dia.

Sementara untuk impor Oktober yang sebesar US$14,19 miliar juga meningkat 23,33 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, jika dilihat dari sisi penggunaan barang, sebagian besar impor ditujukan untuk barang baku yang tercatat US$10,77 miliar atau naik 25,75 persen. Ini disebabkan oleh impor raw sugar, termasuk ferochrome.

BPS juga mencatat impor barang modal sebesar US$2,17 miliar atau naik 9,8 persen dibanding tahun lalu. "Kami harap, kenaikan barang modal ini berdampak ke Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB)," imbuhnya.

Secara kumulatif,, nilai ekspor Indonesia tercatat US$138,5 miliar atau naik 17,49 persen dari US$117,9 miliar dari tahun sebelumnya, di mana sebagian besar negara tujuan ekspor adalah China, Amerika Serikat, dan Jepang, dengan jumlah 34,26 persen.

Sementara untuk total nilai impor kumulatif, angkanya tercatat US$126,68 miliar di mana sebagian besar barang berasal dari Tiongkok 26,12 persen, Jepang 11,55 persen, dan Uni Eropa 9,34 persen. (bir)