BI Ramal Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 6,2 Persen pada 2022

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 28/11/2017 21:03 WIB
BI Ramal Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 6,2 Persen pada 2022 Proyeksi BI untuk 2022 memang lebih tinggi dibandingkan proyeksi BI untuk pertumbuhan ekonomi tahun ini yang sebesar 5,1 persen. (CNN Indonesia/ Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,8 hingga 6,2 persen pada 2022.

Proyeksi BI untuk 2022 memang lebih tinggi dibandingkan proyeksi BI untuk pertumbuhan ekonomi tahun ini yang sebesar 5,1 persen. Namun, proyeksi itu masih lebih rendah dibandingkan target rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019 yang sebesar 7 persen.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengungkapkan, proyeksi tersebut dibuat mengingat pemerintah telah melakukan berbagai upaya percepatan reformasi struktural yang bisa meningkatkan produktivitas perekonomian yang memungkinkan perekonomian tumbuh lebih tinggi tanpa mengganggu stabilitas.



"Perekonomian jangka menengah akan tumbuh lebih kuat, berkelanjutan, seimbang dan inklusif mencapai 5,8 persen hingga 6,2 persen pada 2022," ujar Agus dalam Pertemuan Tahunan BI 2017 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Selasa (28/11).

Pertumbuhan ekonomi tersebut akan ditopang oleh tingkat inflasi yang terkendali di kisaran tiga plus minus satu persen dan defisit transaksi berjalan di bawah tiga persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Untuk tahun depan, BI memperkirakan ekonomi hanya akan tumbuh di kisaran 5,1 hingga 5,5 persen dengan tingkat inflasi di kisaran 3,5 plus minus

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai proyeksi BI tersebut cukup realistis.


"Tanpa ada terobosan kebijakan, pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun ke depan mungkin maksimal hanya 6 persen," ujar Faisal.

Menurut Faisal, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melaju lebih kencang jika bank sentral melakukan terobosan kebijakan moneter. Pasalnya, ruang fiskal di Indonesia sangat terbatas.

Salah satu bentuk terobosan yang bisa dilakukan BI adalah menerbitkan kebijakan disinsentif untuk perbankan jika ingin menempatkan uangnya di bank sentral.

Menurut Faisal, saat ini, alih-alih menyalurkan simpanan ke kredit, bank lebih senang menaruh simpanan tersebut di instrumen bank sentral misalnya Surat Berharga Bank Indonesia (SBI). Selain lebih aman dari risiko, imbal hasil yang diperoleh juga berpotensi lebih tinggi dibandingkan meminjamkan ke debitur.

Karenanya, bank sentral perlu membuat kebijakan yang mendorong perbankan memilih untuk menjalankan fungsi intermediasinya dibanding sekedar menempatkan simpanannya di bank sentral. Jika penyaluran kredit meningkat, laju sektor riil dapat semakin cepat dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi bisa terdongkrak.

(lav/lav)