Perbankan Prediksi Kredit Tumbuh Stagnan Tahun Depan

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 29/11/2017 09:48 WIB
Perbankan Prediksi Kredit Tumbuh Stagnan Tahun Depan Sebagian perbankan masih yakin permintaan kredit tahun depan mampu tumbuh, meski tidak menargetkan pertumbuhan yang signifikan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagian perbankan masih yakin permintaan kredit tahun depan mampu tumbuh. Meski tidak menargetkan pertumbuhan yang signifikan, tetapi setidaknya pertumbuhan kredit tahun depan setara dengan tahun ini.

Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), Jahja Setiaatmaja mengatakan, manajemen menargetkan pertumbuhan kredit dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) 2018 sebesar 9 persen hingga 10 persen.

"Sementara kami konservatif, tapi tetap kami siapkan permodalan, likuiditas," ungkap Jahja, dikutip Rabu (29/11).



Menurutnya, pertumbuhan kredit didorong oleh berbagai sektor bisnis, atau dengan kata lain tidak hanya bergantung dari satu sektor saja. Misalnya, bisnis tepung hingga jalan jalan tol.

"Jadi tidak hanya satu industri saja yang meningkat," sambung dia.

Kendati telah menetapkan pertumbuhan kredit secara konservatif, Jahja menambahkan, pihaknya tidak bisa memastikan kondisi ekonomi atau daya beli masyarakat terjaga pada tahun depan.

"Kadang-kadang susahnya kan seperti Gunung Api di Bali, itu kan di Bali termasuk kuat daya belinya. Ini susah diprediksi," papar Jahja.

Kemudian, Direktur Konsumer PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Anggoro Eko Cahyo berharap ada perbaikan di sektor properti, sehingga bisa mendongkrak permintaan kredit BNI tahun depan.

"Kan tahun ini mulai membaik tapi belum sekenceng yang diharapkan, tahun depan diharapkan lebih baik," terang Anggoro.

Sayangnya, ia tak menyebut pasti berapa target pertumbuhan konsumer tahun depan. Menurutnya, total kredit konsumer saat ini sebesar Rp66 triliun.

Sementara itu, Direktur Utama Citibank Indonesia, Batara Sianturi mengungkapkan terdapat perlambatan permintaan kredit saat ini. Maka dari itu, perusahaan masih merampungkan RBB tahun 2018.

"Kalau permintaan berkurang untuk modal kerja ya jadinya tidak ada permintaan untuk kredit," kata Batara.

Perlambatan permintaan kredit ini khususnya terjadi pada bisnis sektor riil. Padahal, rata-rata tingkat likuiditas perbankan nasional terbilang cukup kuat saat ini.

"Nah itu yang saya pikir harus ada kepercayaan berbisnis," tutur Batara.


Hingga kuartal III 2017, Citibank Indonesia menyalurkan kredit Rp40 triliun, atau tumbuh 2,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, Batara masih belum dapat mengidentifikasi kondisi permintaan kredit tahun depan. Saat ini, pihaknya masih merampungkan RBB untuk diserahkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Untuk angka saya bisa katakan ketika OJK sudah oke," pungkas Batara. (gir/gir)