OJK Ramal Konsolidasi Bank Mentok Hanya Sampai Awal 2018

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 24/11/2017 13:25 WIB
OJK Ramal Konsolidasi Bank Mentok Hanya Sampai Awal 2018 Otoritas Jasa Keuangan memproyeksi masa konsolidasi perbankan dalam mengatasi rasio kredit bermasalah akan berakhir awal 2018. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksi masa konsolidasi perbankan dalam mengatasi rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) akan berakhir pada kuartal I 2018, sehingga pada periode selanjutkan akan lebih baik.

Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, hal ini terlihat dari rata-rata NPL bank yang mulai membaik per Oktober lalu.

Ia mencatat, NPL gross berada pada kisaran 2,9 persen dan NPL net di angka 1,2 persen pada Oktober 2017. Sedangkan rata-rata NPL gross pada Oktober 2016 lalu sebesar 3,2 persen.



"NPL saat ini kan sudah rendah dibandingkan tahun lalu. Saya harap konsolidasi berakhir tiga bulan ke depan," ujar Heru di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (23/11).

Dari sini, Heru melihat rata-rata NPL perbankan sampai akhir tahun tetap akan berada pada kisaran yang sama dengan level Oktober ini.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan IV Slamet Edi Purnomo menilai perbaikan NPL sampai akhir tahun akan didorong oleh upaya setiap bank mengejar target NPL yang telah ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB).

Hal itu dilakukan dengan terus mendorong upaya restrukturisasi kualitas NPL. "(kredit) ada yang dijual, ada yang direstrukturisasi. Kan Desember itu, mereka kejar performance, kan mau publikasi, target RBB harus tercapai," terangnya.

Bila hal tersebut dijalankan, ia melihat, peluang posisi NPL gross perbankan di kisaran 2,0-2,5 persen masih terbuka.

Sementara itu, posisi NPL gross perbankan pelat merah, yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar 3,75 persen dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN 3,1 persen

Sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI sebesar 2,8 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) atau BRI 2,33 persen.

(lav/lav)