Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham Express Transindo dibuka di level Rp51 per saham. Namun, pada sesi I perdagangan, harga saham diterpa aksi jual hingga sempat menyentuh level harga terendah di pasar reguler BEI, Rp50 per saham atau turun 1,96 persen.
Analis Senior Mega Capital Indonesia Fikri Syaryadi mengatakan, tidak ada berita terkait Express Transindo selain soal pelemahan kinerja keuangan perseroan. Menurutnya, pergeseran tren transportasi daring (online) menjadi salah satu penyebabnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Saham Perbankan Diterpa 'Gairah' Positif |
Kinerja emiten berkode saham TAXI itu memang kian memprihatinkan. Pendapatan perusahaan taksi berlogo rajawali itu amblas 54,81 persen pada kuartal ketiga 2017 menjadi Rp 231,62 miliar, dari Rp512,57 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Hal itu tak ayal membuat rugi bersih yang harus ditanggung TAXI hingga akhir September 2017 lalu meningkat 157,41 persen menjadi Rp 210,57 miliar, dari rugi bersih Rp 81,8 miliar di kuartal ketiga tahun lalu.
Sebelumnya perusahaan juga mengaku telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 250 karyawannya hingga Juni lalu, dan berpotensi terus bertambah. Selain itu, perusahaan juga mengumumkan rencana penjualan aset berupa tanah dan rumah toko (ruko).
Ia menyatakan, dalam sepekan ini, harga saham tetap akan berada di kisaran level Rp50 per saham. Menurut dia, sulit bagi saham TAXI untuk bisa naik kembali (rebound) karena memang secara fundamental jelek.
"Kalau dilihat secara grafik saja, sudah hampir 1,5 tahun harga saham TAXI ini melemah. Jadi, bukan sekadar aksi jual sementara saja pelemahan ini," jelasnya.
s
CNNIndonesia.com sudah menghubungi manajemen Express Transindo. Namun, Direktur Utama Express Transindo Benny Setiawan enggan memberikan komentar terkait kinerja keuangan perseroan. (bir)