Rekomendasi Saham

Saham Perbankan Diterpa 'Gairah' Positif

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Senin, 04/12/2017 10:25 WIB
Saham Perbankan Diterpa 'Gairah' Positif Emiten perbankan pelat merah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) tengah mendapatkan angin segar dari MSCI Indonesia Index. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Emiten perbankan pelat merah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) tengah mendapatkan angin segar, karena sahamnya masuk dalam Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia Index.

Pada akhir perdagangan November kemarin, MSCI merombak seluruh portofolionya atau disebut juga dengan rebalancing. Untuk Indonesia sendiri, MSCI mengeluarkan tiga saham dan memasukan satu saham.

Tiga saham yang dikeluarkan, antara lain PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA).


Sementara itu, masuknya BTN dalam MSCI Indonesia Index ini telah memberikan imbas positif pada perdagangan akhir pekan lalu, Kamis (30/11). Harga sahamnya naik 1,27 persen ke level Rp3.200 per saham.


"BTN ini didukung oleh masuknya saham ke MSCI, target harga Rp3.300 per saham," ujar analis Semesta Indovest Sekuritas, Aditya Perdana Putra kepada CNNIndonesia.com, dikutip Senin (4/12).

Dengan demikian, saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini memiliki potensi untuk meningkat lagi hingga 3,12 persen dalam satu pekan ini.

Selain BTN, Aditya juga memasukan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dalam posisi beli (buy). Menurutnya, hal ini didukung oleh fundamental perusahaan.

"Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BCA cukup stabil di angka 6,5 persen, didukung oleh penurunan bunga deposito," papar Aditya.

Sementara itu, harga saham BCA juga masih memiliki ruang kenaikan jelang akhir tahun ini. Apalagi, harga sahamnya terpantau turun sepanjang pekan lalu, khususnya pada Kamis (30/11).

Bila diakumulasi sepanjang pekan lalu, harga sahamnya turun 4,46 persen. Namun, khusus akhir pekan, harga saham BCA terkoreksi 3,9 persen ke level Rp20.350 per saham.

Di sisi lain, Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan merekomendasikan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) untuk trading pekan ini.


Alfred menjelaskan, sebenarnya perusahaan tidak memiliki sentimen baru. Namun, stock split yang dilakukan pada bulan lalu dengan rasio 1:5 masih dapat mendorong harga saham BRI.

"Dengan stock split jadi mampu mendorong likuiditasnya, kemudian perbankan fundamentalnya juga bagus," papar Alfred.

Pada akhir pekan lalu, harga saham BRI tercatat melemah cukup signifikan, yakni 2,73 persen menjadi Rp3.210 per saham.

Alfred melanjutkan, pelaku pasar juga bisa mencermati saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom. Ia melihat ada potensi bangkit (rebound) secara teknikal.

"Dalam dua hingga tiga bulan ini pelaku pasar asing sangat masif menjual saham Telkom, nah ini membuat harga saham tertekan," jelas Alfred.

Memang, sejak Jumat (24/11), harga saham Telkom terlihat dalam tren pelemahan. Bila diakumulasi, harga saham Telkom sudah turun 3,93 persen dan berakhir di level Rp4.150 per saham.

Maka dari itu, kini pelaku pasar bisa melakukan transaksi beli dengan harga murah pada saham Telkom. Hal ini berlaku bagi pelaku pasar asing maupun lokal.

Selanjutnya, Direktur Investa Saran Mandiri, Hans Kwee menyebut adanya peluang kenaikan bagi saham PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

Namun, hal ini hanya dilihat secara teknikal. Untuk itu, Hans menargetkan harga saham Waskita Beton Precast menuju ke level Rp1.890 per saham hingga Rp1.930 per saham.

Sementara itu, harga saham Wijaya Karya sendiri diproyeksi mencapai Rp414 per saham hingga Rp422 per saham.

Saham emiten barang konsumsi berpotensi mendapat sentimen positif dari momentum Pemilihan Kepala Daerah 2018.Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika
Saham emiten barang konsumsi berpotensi mendapat sentimen positif dari momentum Pemilihan Kepala Daerah 2018.

Tahun Pilkada 'Angkat' Saham Barang Konsumsi

Adapun, beberapa saham barang konsumsi mendapatkan sentimen positif dari potensi membludaknya belanja pemerintah dan konsumen tahun depan, seiring dengan adanya 171 Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada).

Saham barang konsumsi yang dimaksud, yakni PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

"(Ketiga saham itu) akan rebound dalam jangka pendek, tapi bicara jangka panjang juga masih oke," tutur Aditya.

Ketiga saham ini kompak melemah pada perdagangan Kamis (30/11) lalu. Bila dirinci, HMSP anjlok 4,87 persen, Gudang Garam 4,46 persen, dan Unilever Indonesia 1,84 persen.

Sebelumnya, potensi peningkatan belanja pemerintah dan konsumen ini pernah diungkapkan oleh Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio.

"Total biaya termasuk kebutuhan pemerintah, total dana yang ditarik dari perbankan untuk Pilkada sekitar Rp10 triliun," kata Tito beberapa waktu lalu.

Pasalnya, dalam satu tempat Pilkada saja, dana yang dibutuhkan bisa mencapai Rp100 miliar. Maka dari itu, total Rp10 triliun sebenarnya hanya mencakup 100 tempat saja bila dipukul rata.

(lav/bir)