TOP TALKS

Skema Pembiayaan Ideal, SMI Optimis LRT Jabodebek Kelar 2019

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Senin, 11/12/2017 14:31 WIB
Skema Pembiayaan Ideal, SMI Optimis LRT Jabodebek Kelar 2019 SMI menilai biaya investasi Rp29,9 triliun untuk proyek transportasi massal LRT Jabodebek dibagi antara Adhi Karya dan KAI sudah sangat ideal. (Dok. PT SMI).
Jakarta, CNN Indonesia -- Proyek Light Rail Transit (LRT) Jabodebek merupakan proyek perdana urunan antara negara, BUMN dan swasta. Proyek transportasi massal tersebut diproyeksi menelan biaya Rp29,9 triliun.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk selaku kontraktor akan berkontribusi sebesar Rp4,2 triliun dalam proyek LRT Jabodebek. Sementara, PT Kereta Api Indonesia (Persero) selaku operator akan berkontribusi hingga Rp25,7 triliun.

Adhi Karya akan mendapatkan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp1,4 triliun, sedangkan KAI menerima PMN Rp7,6 triliun. Sejumlah bank BUMN, bank swasta, dan lembaga lainnya, termasuk PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) akan mengucurkan pembiayaan hingga total Rp18,1 triliun.


Tidak cuma mendukung pembiayaan proyek LRT, SMI juga dipercaya oleh pemerintah untuk melakukan studi kelayakan dan menentukan skema pembiayaan terbaik. Lalu, apakah skema pembiayaan yang ditetapkan pemerintah dan akan dilakukan financial closing pada 21-22 Desember 2017 itu sudah ideal?

Berikut ini petikan wawancaranya CNNIndonesia.com dengan Direktur Utama SMI Emma Sri Martini.

Skema Pembiayaan Ideal, SMI Optimis LRT Jabodebek Kelar 2019SMI menilai biaya investasi Rp29,9 triliun untuk proyek transportasi massal LRT Jabodebek dibagi antara Adhi Karya dan KAI sudah sangat ideal. (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya).

Bagaimana progres LRT Jabodebek?

Terkait proyek LRT Jabodebek ini, ini kan proyek yang sangat besar ya, signifikan sekali dan bagus sekali untuk urban transport, khususnya di Jakarta dan greater Jakarta. Keberadaan proyek ini sangat signifikan diperlukan dan sangat besar manfaatnya. Secara size, proyek ini memang cukup besar. Kami juga sedang berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan selaku project owner-nya, Kementerian Keuangan, PT KAI (Persero), PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Kemudian, Kementerian BUMN dan tentunya para Himpunan Bank-bank Negara (Himbara), seperti Bank Mandiri, BRI, dan BNI. Itu bagaimana kami bisa mendukung proyek ini.

Tentunya, SMI juga sangat ingin memberikan pembiayaan di proyek ini. Kami masih ingin melakukan financial closing dalam waktu dekat ini. Kalau bisa di akhir desember ini atau first quarter ya, ini sedang kami upayakan. Karena beberapa komitmen terkait dengan struktur proyek masih dilakukan penyempurnaan disana-sini, namun secara besaran sudah kelihatan parsialnya, struktur komersial besarnya sudah in place. Tinggal detailing-nya dan fine tunning dari bentuk struktur proyek supaya lebih optimal.

SMI membuat studi kelayakan untuk proyek ini, hasilnya bagaimana?

Sebetulnya, studi kelayakan sudah disiapkan juga oleh konsultan yang di-engaged oleh KAI, dari situ sudah ada draf finalnya. Darisitu kami melakukan kajian bersama. Jadi, kami melakukan penyempurnaan lah, terkait angka-angka dan feasibility dari proyek ini, khususnya terkait perlunya penjaminan dari pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan juga subsidi atau bantuan yang diberikan pemerintah dalam proyek ini. Yang mana, dalam Perpres yang sudah ditandatangani pak Presiden Joko Widodo, ada dua opsi, yaitu melalui pendanaan anggaran Kemenhub dan KAI, yang mana sudah ditetapkan pembayaran melalui KAI. Tinggal distrukturkan.


Bicara angka, biaya investasinya berubah. Terakhir berapa?

Ya, rasanya perubahan itu karena ada perubahan dari itemnya. Pertama, perubahan dari item, kalau mau nambah item capex kan pasti bertambah biayanya. Kedua, perubahan dari sisi spesifikasi teknis. Misalnya, penambahan dari jumlah stasiun, tadinya dari KAI ingin menambah jumlah dua stasiun lagi untuk meningkatkan jumlah penumpang.

Tapi, setelah itu, supaya capex-nya tidak terlalu besar, nanti saja penambahan stasiun bisa dilakukan later on. Jadi, satu stasiun dulu ditambah. Seperti itu rasanya masih bisa di-justify. Supaya proyeknya yang penting operasional dulu, nanti tambahan bisa dilakukan kemudian setelah COD (commercial operation date).

Tapi, KAI minta mundur nih bu?

Nggak. Nggak. Bukan mundur. Lebih kepada strukturnya bagaimana, supaya bagi KAI juga sebagai penerima penugasan tidak terlalu memberatkan. Dari sisi point of view pemerintah, dari sisi fiskal support kan juga harus dipastikan bahwa apapun struktur proyeknya, bentuk dan jumlah penjaminan, serta bentuk dan jumlah subsidi itu paling efisien. Jadi, lebih kesitu. Karenanya, kami sedang melakukan penyempurnaan supaya semua concern para pihak bisa ter-address dengan baik.


SMI sendiri kan ahlinya di bidang infrastruktur, kalau menurut kajian SMI sudah ideal belum?

Sudah sangat ideal sih. Karena sudah melalui proses review yang bertahap. Kemenhub sendiri menunjuk konsultannya sudah men-define spec teknis khususnya untuk pra-sarana. Kemudian, KAI dengan konsultannya juga sudah meng-exercise di financial modelling dan juga spesifikasi dari stasiun dan sarana. Itu semua sudah melalui tahapan review bersama, baik Kemenhub, KAI yang punya eksposur dan experience di sektor operasional, sudah dilakukan review. Akhirnya, come up dengan angka yang Rp29,9 triliun, posisi terakhir yang kami lakukan.

Tidak menutup kemungkinan kalau nanti berubah lagi akan ada penyempurnaan. Tapi, itu selama bisa di justifikasi dan dipertanggungjawabkan kira-kira penambahan atau pengurangan karena apa.

Financial closing kami targetkan pekan kedua Desember. Tapi, kami lihat mudah-mudahan, kalau pun meleset dari tahun ini, kami targetkan jadi first quarter ya. Tentunya, ini membutuhkan dukungan dari seluruh pihak, supaya tercapai financial closing sesingkat-singkatnya.


Mungkinkah bu proyek LRT-nya jadi mangkrak atau terlambat karena masalah di belakang layar, Menteri BUMN Rini Soemarno sempat menyebut bahwa keuangan KAI tidak menyanggupi untuk membiayai LRT?

Rasanya kami masih optimis proyek LRT masih akan berjalan terus, karena cash flow (arus kas) Adhi Karya masih bisa men-service untuk bisa dilakukan konstruksi secara paralel dengan kami berproses untuk financial closing.

Kalau dari sisi konstruksi kan rasanya terus berjalan. Tidak ada stand still atau berhenti dari progres konstruksi.

Jadi, optimis di 2019 nih bu?

Tahun 2019. Mudah-mudahan bisa soft operation COD-nya di first half-nya. (bir)