TOPTALKS

Membaca Masa Depan Asuransi Pertanian di Tangan Jasindo

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Senin, 20/11/2017 10:51 WIB
Membaca Masa Depan Asuransi Pertanian di Tangan Jasindo Asuransi pertanian berfungsi meminimalisasi kerugian petani jika gagal panen. (Dok. PT Jasindo (Persero).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah menjadi rahasia umum jika kehidupan rata-rata petani padi di Indonesia masih kurang sejahtera. Perubahan cuaca di Indonesia yang tidak menentu seringkali menjadi penyebab mereka mengalami gagal panen. Padahal, keuntungan yang diraih dari satu kali panen pun tidak seberapa.

Alhasil, kepemilikan sawah tiap petani bukan bertambah, tetapi berkurang karena dijual atau digadaikan demi memenuhi kebutuhan.

Untuk itu, pemerintah pun mencoba memutar otak guna membantu petani. Salah satunya melalui asuransi pertanian yang berfungsi meminimalisasi kerugian petani jika gagal panen. Salah satu BUMN, yakni PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Jasindo ditunjuk sebagai pelaksana.

Asuransi pertanian dimulai sejak tahun 2015 lalu dengan target 1 hektare (ha) tanaman padi. Petani hanya perlu membayar premi Rp36 ribu per 1 ha dari total premi Rp180 ribu. Sementara, sisanya akan dibayarkan oleh pemerintah.

Namun, pencapaian hingga kuartal III 2017 masih jauh dari target, jumlah sawah yang diasuransikan baru mencapai 394 ribu ha. Selain itu, jumlah antara premi dan klaim sendiri masih tipis.

Lantas, bagaimana langkah Jasindo untuk menjaga kesinambungan produk tersebut? Berikut hasil wawancara CNNIndonesia.com dengan Direktur Operasi Ritel Jasindo Sahata L Tobing.

Bagaimana perseroan melihat potensi produk asuransi pertanian padi?
Jasindo sebagai BUMN kan punya dua fungsi, satu untuk yang untuk , satunya lagi untuk pembangunan. Sebagai BUMN, Jasindo ingin mendorong nawacita itu, dengan instrumen petani itu menjadi instrumen ekonomi.


Nah, karena itu, Jasindo studi sampai ke Jepang, Eropa, kami juga kerja sama dengan badan pangan dunia, bank dunia. Kenapa dibikin, karena di negara-negara yang lebih maju (pertaniannya) seperti India, instrumen asuransi itu untuk menggerakan instrumen lain bekerja.

Petani di Indonesia kan beda dengan negara lain, kalau negara lain skala ekonominya sudah diukur. Negara-negara tertentu ada yang mensyaratkan kalau ekonomi petani ekonomis itu 20 ha, seperti di Jepang, Eropa diberikan batasan. Makanya di beberapa negara bikin kelompok-kelompok orang-orang yang bekerja di tani itu harus disatukan. Kedua, di sana juga ada instrumen asuransi kewajiban bagi petani. Negara-negara di Jepang instrumen asuransi itu sudah ratusan tahun, dan mereka sudah sangat fasih. Distribusi nya tahu, kalau kami kan masih menuju ke sana.

Bagaimana prosesnya hingga asuransi pertanian padi ini terbit?
Ini sudah direncanakan lama, proses Forum Group Discussion sudah dilakukan sejak tahun 1962, tahun 2012 hingga 2013 melakukan pilot project. Pilot project itu di Palembang, Gresik, dan daerah-daerah yang baik sama daerah semparang sungai.

Kenapa harus dibuat begitu? Agar kami tahu model-modelnya. Luasannya pun ber hectare-hektare. Ada yang kami kerjakan sendiri, ada juga yang kerja sama dengan Jepang, Japan Intergrated Corporate Association (JICA).

Apakah produk ini menguntungkan?
Dari segi pengalaman, memang ada beberapa tantangan, pertama dari segi biaya, segi organisasi, dari segi teknologi, dan segi penetrasi. (Dalam mengelola instrumen ini) harus kerja sama dengan pemerintah tingkat pusat, kerja sama dengan Pemerintah Daerah (Pemda), dengan kabupaten, kerja sama dengan kelompok tani, dengan petani.

Pertanyaannya siapa yang sanggup ngerjain? Ya karena kami ada idealisme aja, Jasindo. Coba saja kasih BUMN lain bisa ngerjain tidak, belum tentu juga mau, karena memang begitu rumitnya.

Apakah profit tidak menjadi tujuan Jasindo?
Tujuan pertama kami mendorong penugasan pemerintah yang lebih luas. Artinya bukan hanya agen pembangunan saja, kalau hanya agen pembangunan saja, ya kami kerjakan saja sedikitlah yang penting ada.

Tapi kan kami ingin penetrasi yang lebih luas. Nah, pengennya kami semua aware, kalau Jasindo juga sudah sangat luar biasa memberikan perhatian. Coba lihat, organisasinya kami buat sendiri dan besar.

Lalu kedua, teknologi, rekrutmen, dan sistem kami siapkan, kemudian perangkat-perangkat kami siapkan. Kalau negara lain tuh negara yang buat dan biayai.

Organisasi ini maksudnya yang turun ke lapangan?
Jadi, kami pakai model, di cabang ada penanggung jawab atas model ini. Setelah itu, ke kantor cabang kota, provinsi, kabupaten, lalu kelompok-kelompok tani dan penyuluh. Jasindo menjadi lead mencari model-model.

Nah berdasarkan itu, kelompok tani kan rutin berkeliling naik motor dan jalan, tapi kan tidak mungkin dikumpulin semua petani itu, karena kalau dikumpulin tidak ekonomis.

Uangnya dari mana? Nah, sekarang untuk mendorong itu kami kerja sama dengan Belanda dan Jepang untuk satelit juga, kemudian kerja sama lagi dengan badan pangan dunia, agar sewaktu-waktu bisa minta bantuan profesional yang gratis. Jadi ternyata di Eropa itu banyak yang pensiun tapi ingin mengabdi tapi tidak dibayar. Nanti mereka bantu untuk buat model, sosialisasi. Kami baru mulai.

Bagaimana proses sosialisasi hingga mendapatkan target yang cocok untuk instrumen asuransi pertanian padi?
Kami kan sekarang lagi cari petani by name by address. Misalnya Sahata ini tinggalnya di mana, alamat di mana. Kemudian cari objeknya, nah cara ke objeknya ini harus dipahami secara luas. Bagaimana caranya dan cara sosialisasinya.

Caranya kan dikumpulin kan, siapa yang membiayai ngumpulnya? Misalnya mau dikumpulin, terus petaninya uangnya tidak punya, terus mau mengumpulkan pakai apa. Satu di sana, satu di sana, cara menghubunginya bagaimana. Datangi kan, satu orang, nah kalau 10 bagaimana, jadi 10 tempat. Nah, 10 itu juga belum tentu mengerti.

Tidak mungkin sekali dong, satu kali atau dua kali. Tapi setelah itu belum tentu juga mau. Nah sekarang pertanyaannya, siapa yang mau mengerjakan demikian. Pemerintah juga belum tentu mampu, itu harus ada idealismenya.

Sejauh ini apa saja hambatan yang dilalui oleh Jasindo?
Jadi sebenarnya, hambatan kami itu karena petani hanya mendorong yang banjir (yang didaftarkan dalam asuransi). Padahal itu tidak meningkatkan kelas. Kalau masuk ke industri keuangan petani akan diajarin kan. Setelah itu, nanti lima tahun mendatang petani naik ke mikro karena mungkin dia sudah jadi pengumpul. Saat jadi pengumpul nah dia beli lagi tanah.

Kan mimpinya begitu, bukan malah seperti saat ini. Tanah seringkali dibagi atau dijual. Nah instrumen asuransi ini, ibaratnya menyeleksi ataupun mendorong petani-petani itu memahami risiko. Waktu memahami risiko dia bisa memilah-milah. Bukan malah mengasuransikan yang banjir. Kalau begitu malah tidak sesuai konsep.

Kemudian dalam sosialisasi, antar daerah bahasanya berbeda. Cara perilaku belum tentu sama, belum lagi mencari tau apa dia penyewa pemilik buruh, kan beda-beda pengetahuannya. Petani ini penggarap atau hanya digaji sementara, ini harus kami tata.

Bagaimana pembagian kerja antara Jasindo dengan lembaga pemerintah lainnya?
Ini sudah berjalan dua tahun dan semakin bagus. Ada Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Pertanian, dan Jasindo.

Nah waktu sebelum awal tahun anggaran kami rapat, mengalokasikan itu kan jumlahnya 14 juta ha berdasarkan data penelitian awal. 14 juta ha dengan jumlah petani 32 juta, tapi sekarang katanya 20 juta petani dengan 12 juta ha. Tapi anggaran yang tersedia kan baru 1 juta ha. Berarti kekurangannya 13 juta ha. Nah, itulah disepakati 1 juta ha itu di mana di seluruh Indonesia.

Ini terobosan bagus. Tapi memang jumlah lahannya harus ditingkatkan karena belum sampai 10 persen, jadi belum bisa mewakili. Kami inginnya langsung 14 juta ha, baru kami siapkan tim data.

Tim data ini yang nantinya kerja sama dengan seluruh dunia, ada satelit dan lain-lain. Nanti Sumber Daya Manusia (SDM) juga kami siapkan. Saya terbayang mimpi ke depan itu, kami punya organisasi yang lebih baik.

Untuk premi kan Rp180 ribu kali 14 juta ha, jadi Rp2,5 triliun. berarti sudah mencakup keseluruhan nasional. Nah, ini kan semua masih disiapkan data nasional. Setelah bisa menguasai atau meng-cover semua lahan sawah, kan ada beberapa manfaat. Misalnya data, analisis, dan edukasi dapat.

Apakah premi Rp180 ribu per ha cukup untuk membayar klaim ke petani dengan jumlah Rp6 juta per ha?

Jadi kan dibayar petani Rp36 ribu, 80 persen dari pemerintah. Nah yang dibutuhkan jumlahnya lebih banyak, yang ideal 14 juta ha baru skala ekonominya bisa berjalan. Dana klaim itu cukup selama SK menteri mengatur irigasi hamparan gitu, jadi asuransi ini harus dapet semua yang lahan bagus dan jelek karena tujuan bukan klaim nya.

Filosofi saya yang benar itu petani masuk dan mendapatkan inkluasi keuangan. Saya pribadi ingin petani jadi pengusaha, jadi pengusaha harus ada instrumen yang menjembatani. Saat ini yang paling tepat asuransi.

Apakah Jasindo memiliki target spesifik mengenai lokasi yang wajib di-cover asuransi seluas 1 ha?
Kami lihat dari lumbung padinya, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat. Itu lumbungnya.
Dari 14 juta ha lahan yang seharusnya di-cover asuransi pertanian, pemerintah baru menargetkan 1 juta ha lahan.Dari 14 juta ha lahan yang seharusnya di-cover asuransi pertanian, pemerintah baru menargetkan 1 juta ha lahan.(CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).

Apa saja tantangan yang masih harus dihadapi oleh Jasindo ke depan?
Petani itu kan pemahamannya selama ini asuransi itu bantuan. Nah, kalau negara maju itu instrumen. Negara maju itu masyarakat sadar kalau setiap usaha apapun harus diasuransikan. Nah, kalau ini kan belum sampai situ, Jadi kalau di Indonesia ada pemahaman seperti itu enak.

Oh, kalau gitu, harus asuransi nih biar bisa kredit sekian, ada yang bisa diagunkan karena bank percaya kan gitu. Kalau di luar negeri beli mobil ditaya dulu dia sudah pernah ikut asuransi belum, kalau tidak ada asuransi ya tidak bisa beli. Tapi ya tidak mungkin juga dibandingkan dengan negara maju kan. Intinya, penetrasinya harus diperluas bersama.

Hingga posisi terakhir, berapa jumlah premi dan klaim dari asuransi pertanian padi?
Pada kuartal III 2017, jumlah premi Rp71 miliar, itu mencakup kurang lebih 394 ribu ha dengan klaim Rp55 miliar.

Apakah ada hitung-hitungan dari Jasindo dalam meraih keuntungan dari program asuransi pertanian padi?
Di Jasindo diatur untung 10 persen premi. Tapi kan setelah dikurangi biaya sosialisasi segala macem.

Apakah sejak 2015 angka itu tercapai?
Ya, kami dapat keuntungan memahami petani, budaya perusahaan lebih bagus, orang Jasindo bisa mengerti petani, kan itu keunggulan tidak terukur kan. Ini program jangka panjang, kan proses terus menerus. Contoh ya, Jepang saja butuh waktu 125 tahun.

Jika dilihat dari segi bisnis dan Jasindo tidak mengimbangi dengan produk komersial lain, apakah ini mungkin memberikan keuntungan?

Tidak mungkin, kecuali setelah 14 juta ha itu tercapai, baru bisa untung karena akan saling menutupi. Tiba-tiba ada hama di daerah tertentu, tapi kan di wilayah lain aman tidak kena hama. Nah pembayaran premi untuk lahan yang tidak kena hama bisa untuk membayar klaim wilayah yang kena hama. Kalau sekarang kan belum bisa begitu karena kebanyakan hanya sawah yang sering kena banjir dan hama yang diasuransikan. (agi/agi)