EDUKASI KEUANGAN

Atur Cicilan Agar Rumah Tangga Tak Terjerat Utang

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Jumat, 22/12/2017 18:15 WIB
Atur Cicilan Agar Rumah Tangga Tak Terjerat Utang Maraknya e-commerce membuat masyarakat, khususnya rumah tangga, perlu waspada dan bijak dalam berbelanja dengan cicilan, agar tak terjerat utang. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maraknya jasa perdagangan daring (e-commerce) kian membuat masyarakat memiliki banyak pilihan dalam berbelanja, hingga tawaran cicilan yang menggiurkan. Namun, masyarakat khususnya rumah tangga perlu waspada dan bijak dalam berbelanja dengan cicilan, agar tak terjerat utang.

Apalagi, beberapa tahun belakangan ini, bulan Desember menjadi saat dimana pengeluaran rumah tangga bisa melonjak selain di saat Ramadan karena terdapat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Konsumen sebaiknya juga mulai mewaspadai fenomena ini agar arus kas (cashflow) tidak tersendat di tahun baru.

Pendiri Tatadana Consulting, Tejasari Assad mengatakan Harbolnas memang cukup ampuh membuat masyarakat bernafsu untuk membelanjakan uangnya. Apalagi, selain diskon, banyak tawaran dan promosi yang menggiurkan.


"Banyak sekali tawaran menggiurkan. Ada cashback, beli 1 dapat 2, hingga cicilan 0 persen dalam jangka waktu hingga 24 bulan juga. Setiap orang pasti tertarik," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/12).


Menurutnya, masalah keuangan bisa muncul jika terdapat pembelian produk yang tak sesuai kebutuhan dan pengelolaan utang yang buruk. Ia menilai, tawaran cicilan 0 persen sangat berpotensi membuat utang tak terkendali.

"Karena cicilan 0 persen ini memang menarik dan membuat masyarakat daya belinya naik. Pertama, sebaiknya cek barang sesuai kebutuhan. Kalau tidak terlalu perlu jangan dibeli karena berpotensi menambah utang," jelasnya.

Tejasari menjelaskan, setiap rumah tangga harus memperhatikan rasio utang yang aman, yaitu sepertiga dari penghasilan. Ia menambahkan, rasio itu juga berlaku untuk cicilan 0 persen yang dibayar setiap bulan.

Ia juga menyatakan saat ini tawaran cicilan semakin mudah dijangkau, dan tak hanya bisa dinikmati pemilik kartu kredit. Pasalnya, jasa penyedia pembiayaan di sektor ritel kini mulai banyak bermunculan. Sebut saja Kredivo dan Home Credit.

"Sebenarnya semuanya sama sih soal cicilan itu. Tapi harus jeli terkait biayanya. Kalau bukan kartu kredit biasanya ada beberapa perbedaan yang mencolok, seperti bunganya per bulan," jelas Tejasari.

Biasanya, lanjut Tejasari, pengguna jasa penyedia kredit itu juga merupakan pemilik kartu kredit yang pagunya sudah maksimal dipakai. Sementara, dari sisi pembayaran, ia menilai semuanya sama. Ia menyatakan pasti ada denda dan penagihan jika cicilan telat dibayar.

"Selain itu ada juga pekerja yang non-formal seperti part time, yang susah mendapat kartu kredit," jelasnya.


CEO ZAP Finance Prita Ghozie mengatakan, konsumen sebaiknya menyusun daftar kebutuhan sebelum memutuskan untuk berbelanja dengan cicilan. Ia juga menganjurkan konsumen menyiapkan alokasi khusus.

"Membuat pos alokasi pengeluaran bulanan dgn cara membuat anggaran. Salah satu pos alokasinya adalah cicilan untuk membayar pinjaman jika ada.
Cicilan bulanan maksimal 30 persen dari penghasilan yang diterima," ujarnya.

Prinsip belanja, lanjutnya, tergantung barang yang akan dibeli dengan bantuan pinjaman. Ia menyarankan untuk membatasi utang dengan kartu kredit jika keperluannya adalah konsumsi.

"Rumah tangga juga harus punya dana darurat untuk antisipasi kejadian tak terduga," jelasnya. (agi)