KAI dan Adhi Karya Teken Lagi Perjanjian Proyek LRT

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Selasa, 19/12/2017 19:49 WIB
KAI dan Adhi Karya Teken Lagi Perjanjian Proyek LRT Total nilai investasi proyek LRT sebesar Rp29,9 triliun. Bila dirinci, KAI menanggung biaya Rp25,7 triliun, sisanya Rp4,2 triliun akan berasal dari Adhi Karya. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama PT Adhi Karya Tbk serta PT Kereta Api Indonesia (Persero) melakukan penandatanganan Addendum dan Pernyataan Kembali terkait perjanjian proyek Light Rail Transit Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (LRT Jabodebek).

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kembali memastikan komitmen keuangan (financial closing) untuk proyek LRT dilakukan pada 21 Desember 2017. Dalam hal ini, pembiayaan prasarana LRT akan berasal dari Penyertaan Modal Negara (PMN) dan pinjaman perbankan.

PMN ini diberikan kepada Adhi Karya selaku kontraktor dari proyek LRT dan KAI sebagai investor untuk proyek tersebut.


"Saya selaku Menteri Perhubungan memberikan apresiasi kepada semua pihak yang berkolaborasi dalam membuat konsep," ucap Budi, Selasa (19/12).

Total nilai investasi proyek LRT sebesar Rp29,9 triliun. Dana itu meliputi pembiayaan aset prasarana, aset sarana, dan aset perawatan prasarana sebesar Rp25,7 triliun. Kemudian, pembiayaan aset prasarana sebanyak 17 stasiun dan aset Depo memakan biaya Rp4,2 triliun.

"Semoga kolaborasi ini bisa berjalan dengan baik, sehingga nanti memiliki transportasi baru," jelas Budi.

Bila dirinci, KAI akan menanggung biaya sebesar Rp25,7 triliun dan sisanya Rp4,2 triliun akan berasal dari Adhi Karya.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Perkerataapian Kemenhub Zulfikri mengungkapkan, dalam perjanjian ini juga menegaskan jika KAI harus melakukan penyelenggaraan prasarana dan sarana LRT beserta pelayanan sesuai dengan ketentuan pemerintah.

"Masa penyelenggaraan dimulai sejak tanggal pengoperasian komersial hingga 50 tahun kemudian," ujar Zulfikri.

Kemudian, KAI juga dapat mengusahakan realisasi kawasan Transit Oriented Development (TOD) yang nantinya juga dilaporkan kepada Kementerian Perhubungan secara berkala.

Sementara itu, Zulfikri menambahkan, pembangunan prasarana LRT Jabodebek sendiri akan meliputi Cawang-Dukuh Atas, Cawang-Cibubur, dan Cawang-Bekasi. Untuk progres pembangunannya hingga 8 Desember 2017 sendiri baru mencapai 26,2 persen secara keseluruhan.

"LRT Jabodebek ini ditargetkan beroperasi pada tahun 2019," tegasnya. (lav/lav)