Dilansir dari Reuters, Jumat (22/12), harga minyak mentah acuan Brent berjangka naik US$0,2 atau 0,3 persen menjadi US$64,76 per barel pada pukul 12:32 EST siang. Kenaikan tipis juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediaries (WTI) yang naik 0,4 persen atau US$0,24 menjadi US$58,33 per barel.
Meski kenaikan harga yang terjadi tipis, kedua minyak mentah acuan diperdagangkan pada level tertingginya di pasar, melanjutkan peningkatan pada beberapa hari terakhir sejak 12 Desember lalu atau pasca berhentinya operasional pipa Forties.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pipa Forties Laut Utara, pengangkut sekitar 450 ribu barel per hari (bph) minyak mentah Inggris, ditutup setelah ditemukannya retakan di sisi darat saat dilakukan pemeriksaan.
Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga Brent dan WTI sempat terdongkrak sekitar satu persen. Hal itu berkat keluarnya data pemerintah AS yang menyatakan stok minyak mentah AS turun 6,5 juta barel menjadi 436 juta barel pada pekan lalu, terendah sejak Oktober 2015 lalu.
Menteri Energi, Industri, dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi Khalid Al-Falih menyebut akan mengendalikan kelebihan pasokan minyak global, yang disebabkan oleh banyaknya produksi yang dihasilkan dalam beberapa tahun hingga 2015. Arab Saudi merupakan salah satu negara utama pengekspor minyak dunia dan pemimpin OPEC.
Seperti diberitakan sebelumnya, OPEC dan beberapa negara produsen minyak, termasuk Rusia, sepakat untuk memangkas produksi minyak dunia sebesar 1,8 juta bph sejak awal Januari 2017 hingga Desember 2018. (bir)