Harga Bitcoin pulih setelah Melalui Pekan Terburuk sejak 2013

Lavinda, CNN Indonesia | Rabu, 27/12/2017 10:27 WIB
Harga Bitcoin pulih setelah Melalui Pekan Terburuk sejak 2013 Harga bitcoin diperdagangkan pada kisaran US$16.000 atau naik 15 persen di Bitstamp pada akhir perdagangan Selasa (26/12) waktu Amerika Serikat. (REUTERS/Dado Ruvic).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga bitcoin diperdagangkan pada kisaran US$16.000 di Bitstamp pada akhir perdagangan Selasa (26/12) waktu Amerika Serikat. Nilai itu naik 15 persen, sekaligus menutup separuh dari kerugian yang telah dialami pekan lalu.

Pulihnya nilai tukar bitcoin yang terjadi setelah kemerosotan terburuk sejak 2013 itu dipicu melimpahnya aksi beli para investor yang sebelumnya melewatkan reli transaksi mata uang digital terbesar di dunia tersebut.

Investor dan analis meyakini penurunan harga pekan lalu merupakan koreksi alami setelah kenaikan harga yang memuncak. Fenomena itu juga sudah diperingatkan oleh regulator pasar keuangan dan bank sentral dari sejumlah negara.


Harga bitcoin merosot hampir 30 persen dalam satu tahap beberapa pekan lalu menjadi US$11.159. Namun akhirnya kembali naik 15 persen menjadi US$16.030 dalam perdagangan Bursa Bitstamp yang berbasis di Luxembourg.

"Pergerakan harga terbaru menunjukkan bahwa bitcoin masih merupakan investasi. Ada volatilitas dalam jumlah besar di sana," ujar Kristina Hooper, Kepala Strategi Pasar Global Invesco di New York seperti dikutip dari Reuters, Rabu (27/12).

Mata uang digital telah meningkat sekitar dua puluh kali lipat sejak awal tahun, melejit dari level US$1.000 ke level tertingginya US$19.666 pada 17 Desember 2017 lalu, bahkan sempat mencapai angka US$20.000 di bursa lain.

"Tak ada harga tepat yang akan mencerminkan nilai yang sesuai saat ini," tutur Andrei Popescu, co-founder COSS yang berbasis di Singapura.

COSS merupakan platform yang mentransaksikan semua cakupan fitur ekonomi digital berdasarkan cryptocurrency.

"Mengambil keuntungan itu hal yang tepat, membeli untuk proyeksi jangka panjang juga tepat. Anda tidak harus tepat di pasar bitcoin, hanya meminimalisir kesalahan dibanding yang lain," ungkap Popescu.

Kritikus mengkhawatirkan kelemahan desain bitcoin dan adanya pembajak pada dompet digital sebagai tempat penyimpanan mata uang alternatif itu.

Dalam hasil risetnya, Analis Citi menuliskan, bitcoin adalah produk yang tak dapat memenuhi fungsi dasarnya sebagai mata uang karena tingginya potensi gelembung (bubble) ekonomi.

"Maka itu, kami pikir ini mungkin sebuah bubble yang pada akhirnya akan memudar, ketika cryptocurrency lain mengambil alih," demikian tertulis dalam hasil riset Citi.

Kepala Otoritas Sekuritas Israel Shmuel Hauser merupakan pihak yang paling terakhir menyampaikan keprihatinannya baru-baru ini. Dia mengaku akan mengusulkan diterbitkannya peraturan untuk melarang perusahaan yang berbasis pada bitcoin atau mata uang digital lain dari perdagangan bursa Tel Aviv.

Pekan lalu, Bank Sentral Singapura menerbitkan peringatan terhadap invesasi di cryptocurrency, seiring terjadinya lonjakan harga yang didorong oleh spekulasi dan munculnya risiko penurunan harga secara tajam. (lav/lav)