"Kami melihat beberapa bandara yang kami kunjungi terutama di Kupang maupuan di Ende dan Labuan Bajo itu permasalahan utamanya ada di apron," kata Sekretaris Jenderal Sugihardjo di Kupang, Minggu (31/12) seperti dikutip dari Antara.
Lihat juga:Menhub: 30 Persen Bus Tak Laik Jalan |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, untuk bandara di Ende dan Labuan Bajo saat ini hanya memiliki empat area parkir.
Wisatawan bersiap melakukan wisata menggunakan kapal di perairan Labuan Bajo, Senin (1/5). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja) |
Untuk itu, ia melanjutkan, Kemenhub akan menambah masing-masing dua area parkir untuk kedua bandara yang berada di wilayah tengah dan barat Pulau Flores itu.
Wisata bawah air menjadi salah satu andalan pariwisata NTT di perairan Labuan Bajo. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja) |
"Karena kita tidak mau ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi misalnya terkait penyelundupan, terorisme dan sebagainya, sehingga kargo harus di-screening dengan baik," katanya.
Sugihardjo menambahkan, kalau tidak ada gudang dan kargo hanya ditumpuk di masing-maising maskapai maka tidak memadai dari aspek safety.
Selain itu, kendala lainnya untuk bandara di Ende juga berkaitan dengan luas landas pacu (runway) pesawat yang belum memenuhi standar. Kondisi lebar runway 30 meter, maka panjang minimumnya harus mencapai 90 meter.
"Namun karena banyak rumah penduduk yang merapat di bandara itu sehingga runway-nya menjadi sempit, tentu kami harus koordinasi dengan Pemda setempat untuk pembebasan lahan sehingga standar minimum 90 meter bisa tercapai," ujar Sugihardjo. (antara/djm)

Wisata bawah air menjadi salah satu andalan pariwisata NTT di perairan Labuan Bajo. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)