Target Lifting Minyak Bumi Meleset di Tahun Lalu

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Sabtu, 06/01/2018 00:30 WIB
Target Lifting Minyak Bumi Meleset di Tahun Lalu SKK Migas melansir produksi siap jual (lifting) minyak bumi tahun lalu cuma 803,8 ribu barel per hari (bph) atau 98,6 persen dari APBNP 2017. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat produksi siap jual (lifting) minyak bumi sepanjang tahun lalu tak mencapai target. Yakni, hanya sebanyak 803,8 ribu barel per hari (bph).

Capaian tersebut cuma 98,6 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 yang dipatok mencapai 815 ribu bph.

Lebih rinci, produksi lifting minyak bumi terbesar berasal dari Chevron Pacific Indonesia di wilayah kerja Rokan, yaitu 224,3 ribu bph atau 28 persen dari total produksi. Itu pun hanya 97,9 persen dari target perusahaan yang sebanyak 229,1 ribu bph.


Sebanyak 10 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan lifting terbesar menguasai 86 persen total lifting. Namun, hanya empat KKKS yang realisasi liftingnya mencapai target.

Keempat KKKS tersebut adalah Mobil Cepu Ltd di Blok Cepu sebesar 204,2 ribu bph dari target 201,5 ribu bph. Lalu, CNOOC SES di Blok South East Sumatra sebesar 31,5 ribu bph dari target 31,2 ribu bph, Chevron Indonesia Company di Blok East Kalimantan 17,8 ribu bph dari target 17,5 ribu bph, VICO Blok Sanga-sanga dengan produksi 14 ribu bph dari target 13,4 ribu bph.

Sementara, sebanyak 63 KKKS lainnya mengambil porsi 14 persen dari realisasi lifting atau sebesar 115,5 ribu bph. Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengungkapkan, penyebab tak tercapainnya produksi berasal dari banyak faktor.
Salah satunya, masalah peralihan pengelolaan blok. Misalnya, produksi Blok Mahakam yang dikelola Total E&P Indonesie tercatat hanya 52 ribu bph atau lebih rendah dari target 54 ribu bph. Sebagai catatan, pengelolaan Blok Mahakam secara resmi baru diserahkan Total ke PT Pertamina (Persero) pada 1 Januari 2017 lalu.

"Apabila penetapan operator barunya tidak jauh sebelum kontrak wilayah kerjanya habis, maka operator existing enggan berinvestasi lebih besar, sehingga produksi turun," ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (5/1).

Selain itu, Amien melanjutkan, masalah teknis KKKS juga menjadi penyebab. Misalnya, ada masalah data pada waktu operator ingin berproduksi, sehingga produksi tak bisa dilakukan.
Di sektor gas bumi, target liftingnya juga meleset. Tercatat, realisasi lifting gas bumi cuma 1.140 barel setara minyak per hari (boepd) atau 99,2 persen dari target APBPN 2017, yaitu 1.150 ribu per hari.

Adapun, tahun ini, pemerintah menargetkan lifting minyak bumi bisa mencapai 800 ribu bph dan lifting gas bumi sebesar 1.200 boepd.

Guna menjamin tercapainya target migas, SKK Migas akan melakukan langkah-langkah. Antara lain, menyarankan Kementerian ESDM untuk mengumumkan penunjukkan operator wilayah kerja migas dari jauh-jauh hari, sebelum kontrak blok migas berakhir.
"Kami telah mengusulkan kepada pak Menteri ESDM (Ignatius Jonan) untuk segera melego wilayah kerja migas yang habis kontraknya pada 2023. Mudah-mudahan tahun ini bisa diputuskan operator barunya siapa," kata Amien.

Selain itu, SKK Migas juga mendorong penggunaan teknologi yang lebih baik, sehingga bisa mendongkrak produksi, misalnya untuk teknologi pompa.

Namun, perlu diketahui, kendati produksi lifting migas turun, penerimaan negara dari sektor hulu migas sepanjang tahun lalu tembus US$13,1 miliar atau 108 persen dari target pemerintah yang sebesar US$12,2 miliar. Penerimaan tersebut berasal dari sektor pajak dan penerimaan negara bukan pajak. (bir)