ANALISIS

Mencari Biang Kerok Melesetnya Target Konsumsi Listrik

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 11/01/2018 12:07 WIB
Mencari Biang Kerok Melesetnya Target Konsumsi Listrik Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih ditenggarai menjadi penyebab konsumsi listrik yang tak mampu mencapai target di tahun lalu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, konsumsi listrik masyarakat pada sepanjang tahun lalu meleset dari target. Rata-rata konsumsi listrik masyarakat sepanjang tahun lalu hanya 1.012 kiloWatt hour (kWH) per kapita.

Meskipun konsumsi listtik tahun lalu tersebut naik 5,85 persen dari realisasi tahun 2016 sebesar 956 kWh per kapita, capaiannya masih di bawah target yang dipatok 1.058 kWh per kapita.

Hal ini tak sesuai dengan rasio elektrifikasi yang menunjukkan peningkatan dari 91,16 persen menjadi 94,91 persen. Bahkan, capaian tersebut melampaui target tahun lalu, 92,75 persen karena ada percepatan pembangunan maupun perluasan jaringan ke daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).


Peningkatan juga terjadi pada kapasitas pembangkit yang meningkat dari 59 GigaWatt (GW) menjadi 60 GW.

Konsumsi listrik Indonesia memang masih relatif kecil jika dibandingkan negara-negara tetangga. Berdasarkan data Bank Dunia, pada tahun 2014, konsumsi listrik Thailand telah mencapai 2.540 kWh per kapita, Malaysia 4.596 kWh per kapita, Vietnam 1.439 kWh per kapita, dan Singapura 8.854 kWh per kapita.

Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengungkapkan, besaran konsumsi listrik bergantung pada perkembangan ekonomi.

"Kalau aktivitas ekonomi melambat, pertumbuhan (konsumsi) listriknya juga melambat," ujarnya, Rabu (9/1).

Mencari Penyebab Melesetnya Target Konsumsi Listrik(CNN Indonesia/Timothy Loen)

Sepanjang tahun lalu, pertumbuhan ekonomi masih belum sepenuhnya pulih dan diperkirakan hanya tumbuh di kisaran 5 persen. Hal ini mempengaruhi permintaan listrik sektor industri, yang merupakan konsumen listrik dalam jumlah besar.

"Industri yang tadinya bisa beroperasi tiga shift mungkin menjadi hanya dua shift," ungkapnya.

Tak ayal, secara agregat, Febby menyebutkan pertumbuhan konsumsi listrik tahun lalu hanya berkisar 4 persen.

Pernyataan Fabby dikonfirmasi oleh Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat. Ia mengungkapkan, pada tahun lalu, beberapa perusahaan tekstil mengurangi aktivitas produksi bahkan menutup pabriknya. Padahal, industri tekstil merupakan salah satu industri yang banyak menggunakan listrik.

"Beberapa perusahaan yang mengkonsumsi listrik besar memang ada yang tutup atau turun. Itu fakta yang berada di lapangan," ujar Ade.

Pemerintah memang telah memberikan diskon pembayaran listrik untuk industri 30 persen pada jam 23.00-08.00 dan keringanan mencicil tagihan pembayaran listrik. Hal itu sesuai dengan isi Paket Kebijakan Ekonomi III yang diterbitkan Oktober 2015 silam.

Namun, menurut Ade, tidak banyak perusahaan yang mengambil insentif tersebut karena diskon diberikan di luar jam operasional produksi. Sementara itu, perusahaan tidak memiliki insentif untuk menambah jam operasional untuk menambah produksi seiring ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.


Ade pun berharap pemerintah bisa menambah subsidi listrik untuk industri sehingga PT PLN (Persero) bisa kembali menurunkan tarif.

Mencari Penyebab Melesetnya Target Konsumsi ListrikFoto: CNN Indonesia/Timothy Loen

Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN I Made Suprateka menduga, belum tercapainya target konsumsi listrik tahun lalu salah satunya juga disebabkan oleh banyaknya libur panjang.

"Libur panjang menyebabkan konsumsi listrik turun dan beban puncaknya turun," ujarnya.

Made mengungkapkan hingga saat ini belum ada pembicaraan untuk menurunkan tarif listrik industri dengan pemerintah.


Namun, perseroan sebenarnya telah memberikan keringanan bagi masyarakat dan industri dengan tidak menaikkan tarif listrik untuk tiga bulan ke depan. Padahal, beban perseroan meningkat karena kenaikan harga komoditas yang menjadi sumber energi PLN.

Selain itu, untuk mendorong konsumsi listrik, perseroan juga berniat membebaskan penambahan daya dalam rangka penyederhanaan golongan listrik 1.300 VoltAmpere (VA), 2.200 VA, 3.300 VA, dan 4.400 VA ke 5.500 VA. Jika daya listrik naik, rumah tangga bisa menjadikannya peluang untuk mengembangkan usaha kecil.

Sekadar informasi, berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026, perseroan menargetkan rata-rata pertumbuhan penjualan listrik selama 10 tahun ke depan sebesar 8,3 persen. Pertumbuhan tertinggi disumbang dari golongan bisnis sebesar 9,5 persen, sementara pertumbuhan terendah akan disumbang dari sektor publik dan rumah tangga sebesar 8,6 persen.

Hingga akhir 2016, realisasi penjualan listrik perseroan tercatat 216 TerraWatt hour (TWh) atau meningkat 6,5 persen jika dibanding penjualan tahun sebelumnya 202,8 TWh. Sementara itu, hingga akhir tahun ini, PLN menargetkan pertumbuhan penjualan listrik sebesar 6,5 persen atau setara 217,4 TWh.


Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Andy Noorsaman Sommeng optimistis percepatan laju konsumsi listrik ke depan bakal terwujud.

Selain untuk memenuhi kebutuhan industri seiring dengan mulai pulihnya perekonomian, konsumsi listrik juga bisa meningkat dengan meningkatnya penggunaan kendaraan dan motor listrik.

Selain itu, Kementerian ESDM juga mendorong PLN untuk merealisasikan penyederhanaan golongan listrik jika telah disosialisasikan kepada pelanggan.

"Saat ini, rencana penyederhanaan tersebut masih dalam tahap sosialisasi," ujar Andy. (agi/agi)