Bitcoin 'Roller Coaster', Jangan Nyemplung Jika Tak Siap Rugi

Lavinda, CNN Indonesia | Senin, 15/01/2018 15:00 WIB
Bitcoin 'Roller Coaster', Jangan Nyemplung Jika Tak Siap Rugi Sampai saat ini, ada sebanyak 1300 aset digital yang hadir di dunia. (CNN Indonesia/Lavinda).
Jakarta, CNN Indonesia -- Istilah Bitcoin menjadi semakin familiar di kalangan masyarakat. Sebagian percakapan beraroma pujian karena Bitcoin dianggap sebagai alat transaksi modern layaknya mata uang, dan instrumen investasi yang layak dilirik kalau mau jadi kaya mendadak.

Namun tak sedikit pula gunjingan yang hadir karena pergerakan nilai Bitcoin bak roller coaster dianggap tak masuk akal menjadi alat investasi aman.

Untuk mengurangi rasa penasaran masyarakat atas kontroversi yang hadir, CNNIndonesia.com mewawancarai Oscar Darmawan, Chief Executive Officer (CEO) Bitcoin Indonesia, sebuah platform jual beli aset digital. Berikut petikan wawancaranya:


Bagaimana perkembangan fenomena aset digital di dunia saat ini?

Bitcoin adalah aset digital paling awal yang dibuat di atas blockchain, di mana sistemnya berdasarkan interkoneksi satu dengan yang lainnya, dan catatan basis data yang saling terhubung dan transparan.

Dalam perkembangannya, karena ini open source, orang lain menyempurnakannya dengan teknologi lain. Sampai saat ini ada 1300 aset digital. Kami bitcoin.co.id, menjadi perusahaan agar transaksi jual dan beli terjadi dengan aman.


Bagaimana tanggapan Anda terkait kekhawatiran nilai bitcoin berpotensi menggelembung (bubble) dan jatuh?

Aset digital tidak punya standar nilai, karena dilepas ke pasar sehingga proses pembentukan harga itu benar-benar bergantung pada ketersediaan dan permintaan di pasar itu sendiri. Itu yang membuat fluktuasi nilai Bitcoin menjadi sangat tinggi.

Pada dasarnya, semua komoditas punya potensi bubble, seperti halnya emas dan silver yang harganya semakin lama semakin menjulang. Kapitalisasi pasar emas lebih besar, pasarnya sudah lebih mature. Semakin besar kapitalisasinya, maka pergerakan harganya akan semakin lambat. Hampir semua komoditas begitu, di mana komoditas menentukan harga sendiri di pasar.

Saya tidak akan membantah jika disamakan dengan fenomena komoditas batu akik, ikan lohan, atau pohon yang sempat booming seketika beberapa waktu lalu. Tetapi kalau dilihat lebih jauh, tentu ada bedanya. Komoditas-komoditas itu bereproduksi dengan sangat cepat, sehingga kebanjiran pasokan dan merusak harga Bitcoin itu sendiri.


Sedangkan bitcoin punya jumlah yang terbatas dan tidak bisa dikembangbiakan. Bitcoin sistemnya desentralisasi, maka suplai dari bitcoin terbatas ditentukan maksimal 21 juta bitcoin yang bisa beredar. 1 bitcoin terdiri dari 100 juta unit. Perkiraan bitcoin 21 juta ini habis pada 2040.

Bitcoin dibuat pada 2009 dan merupakan teknologi blockchain pertama dan bitcoin punya fungsi utama, sebagai alat settlement dan store value, dan alat instan transfer yang luar biasa. Aset digital yang lain di bawahnya sebenarnya punya teknologi yang lebih baik, tapi karena bitcoin paling tua dan desentralisasi maka aksesnya paling luas.

Bagaimana penjelasan teknologi aset digital lain di bawah bitcoin lebih bagus?

Setiap zaman bisa berganti, generasi orang tua itu baik. Tapi dalam teknologi, generasi tua akan selalu dikalahkan generasi muda jika tidak lekas berkembang. Bitcoin teknologi blockchain-nya masih berkembang tapi bergerak agak lama dibanding teknologi baru lainnya, jadi ada kemungkinan aset digital lain bisa mengalahkan bitcoin.

Aset digital lain yang sedang berkembang ialah Etherium, di mana setiap orang bisa membangun peranti lunak (software) yang diletakkan di atas blockchain. Bisa pula diproses menggunakan gimmick berupa permainan. Kalau bicara ripple, setiap bank di seluruh dunia bisa interkoneksi dan saling verifikasi transaksi tanpa ada pihak ketiga. Semua teknologinya berkembang.

Bagaimana menanggapi antusiasme masyarakat terhadap aset investasi baru sampai menggadaikan harta bendanya?

Saya tidak menyarankan hal itu dilakukan, karena teknologi itu ada yang namanya usia. internet berkembang dengan sangat cepat. teknologi memang punya potensi, tapi kita tidak pernah tahu teknologi mana yang akan memenangkan seluruh dunia ini. kita tidak akan pernah tahu aset digital mana yang akan memenangkan market, tapi kalau anda merasa investor dengan profil risiko tinggi (high risk taker) silakan.

Saya pernah kenal seseorang yang menjual semua hartanya untuk dibelikan sebagian emas sebagian bitcoin, bisa saja kalau mau mengambil risiko tinggi, tapi tidak semua segila itu, dan saya tidak menyarankan orang yang tidak gila jadi gila, karena tidak semua orang bisa tetap tenang pada saat market panik.

Saya menyarankan kalau mau terlibat dalam produk ini, portofolio sebaiknya hanya 5-10 persen karena itu yang bisa diterima ketika mengalami kerugian. Intinya diversifikasi.

Bagaimana prospek bitcoin di Indonesia?

Dibandingkan luar negeri, perkembangan pasar bitcoin di Indonesia masih jauh, karena regulasinya juga masih belum mendukung. Berbeda dengan di Jepang jauh lebih cepat karena perdagangan bitcoin sudah diberikan perizinan khusus, bahkan mengubah UU hanya untuk bitcoin. Akhirnya perputaran uang aset seluruh dunia sebagian besar ada di Jepang, dia memaksa devisa di seluruh dunia yang bergerak di bidang blockchain masuk ke Jepang.

Apakah Indonesia bisa menerapkan aturan yang sama seperti negara lain ?
Mungkin saja (aturan bitcoin bisa diterapkan di Indonesia), malah bagus karena kalau transaksinya dimonitor maka nanti data-data soal pengguna baik dan pengguna buruk semua pemerintah bisa mendapatkannya, perlindungan konsumen malah lebih jelas.

Bayangkan, kalau di Indonesia dilarang maka perlindungan konsumennya malah akan lebih buruk. Kalau di Indonesia ilegal, maka mereka akan membeli di luar negeri, misalnya di Jepang yang legal, transaksi uang ke Jepang tidak sulit kok. Selain itu, di Amerika Serikat dan Eropa juga sudah legal. Nanti akhirnya asetnya juga malah masuk ke luar negeri. akhirnya data transaksi Indonesia juga akan dimiliki oleh negara-negara asing. Kerugian lain, kita ketinggalan teknologi lagi dengan negara-negara asing.

Blockchain adalah salah satu bidang di mana pemerintah kita punya kesempatan untuk bisa bersaing dengan negara-negara lain, karena ini murni permainan otak dan teknologi. kita sudah ketinggalan zaman internet, jangan sampai ketinggalan di teknologi berikutnya.

Pemerintah sudah menyadari teknologi bitcoin?

Sebenarnya pemerintah sudah menyadari soal ketinggalan teknologi itu, makanya mereka hanya melarang bahwa bitcoin jangan dijadikan sebagai alat pembayaran, karena itu risiko moneter yang ingin mereka tangkal, tapi mereka membiarkan teknologi ini berkembang.

Saya mendukung langkah yang dilakukan oleh bank indonesia karena di Indonesia transaksi wajib dilakukan dengan rupiah. Tujuannya, agar nilai rupiah lebih punya value. Sebenarnya, persaingan bitcoin bukan dengan rupiah, tapi dengan komoditas lain seperti emas atau perak.

Kalau pemerintah mengubah peraturan dan mengizinkan bitcoin sebagai alat pembayaran?

Saya kira kalau bitcoin dijadikan sebagai alat pembayaran itu akhirnya mata uang yang ditarik adalah mata uang setempat. (lav/bir)