Laporan bertajuk ASEAN Consumer: Food for Thought melansir bahwa pertumbuhan ekonomi tahun ini utamanya akan didorong oleh peningkatan investasi di dalam negeri. “Investasi swasta diandalkan dengan terbatasnya ruang fiskal pemerintah,” ujar Tiesha Putri dalam laporan tersebut, Senin (15/1).
Lebih lanjut ia bilang, undang-undang mengatur pembatasan defisit anggaran maksimal tiga persen dari PDB. Diperkirakan defisit mencapai 2,6 persen pada akhir tahun ini atawa lebih tinggi dari perkiraan pemerintah yang sebesar 2,2 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekadar informasi, pada 2018, pemerintah mengalokasikan anggaran belanja Rp2.221 triliun. Meski cuma meningkat sekitar 4 persen dari tahun sebelumnya, ia melanjutkan, namun pemerintah diperkirakan cenderung populis dengan memberikan stimulus fiskal untuk menjaga konsumsi masyarakat berpenghasilan rendah.
Selain itu, sambung Victor Stefano, anggaran Program Keluarga Harapan (PKH) yang bisa digunakan warga untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari juga melonjak. Yakni, dari Rp1,7 triliun yang mencakup 6 juta keluarga pada tahun lalu menjadi Rp20,8 triliun meliputi 10 juta keluarga pada tahun ini.
“Dengan pemerintah yang cenderung lebih populis, disertai kenaikan upah minimum regional, kami memprediksikan tingkat konsumsi rumah tangga secara berkala akan meningkat,” imbuh Victor.
Adapun, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Desember 2017 berada di level 126,4 poin pada Desember 2017. Optimisme konsumen ini dipercaya sebagai faktor penting yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi. (bir)