BI Sebut 4 Risiko Global jadi 'Kerikil' Perekonomian Nasional

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 29/12/2017 08:10 WIB
BI Sebut 4 Risiko Global jadi 'Kerikil' Perekonomian Nasional BI menyebut, risiko kebijakan ekonomi fiskal dan moneter AS menjadi salah satu tantangan. Lainnya, rencana bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menyebut sedikitnya empat risiko jangka pendek membayangi pertumbuhan ekonomi nasional di tahun anjing tanah. Kendati demikian, BI optimis perekonomian Indonesia bakal tumbuh di kisaran 5,1 persen-5,5 persen pada 2018 mendatang.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, pertama, muncul bila pemulihan perekonomian dunia tidak sebaik yang diperkirakan. Sehingga, di bawah ekspektasi banyak kalangan.

"Diperkirakan ekonomi global akan membaik, tapi kalau tidak seperti itu, tentu itu sebuah risiko," ujarnya dalam konferensi pers akhir tahun BI, Kamis (28/12).


Kedua, risiko dari kebijakan ekonomi fiskal dan moneter Amerika Serikat (AS). Seperti diketahui, pemerintah AS telah mengumumkan akan melakukan reformasi perpajakan.

Lalu, bank sentral AS, The Federal Reserve, juga telah mengumumkan akan mengerek kembali suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) sebanyak tiga kali pada tahun depan, setelah menaikkan pada akhir tahun ini.

Bahkan, The Fed juga menyatakan akan kembali menaikkan FFR sebanyak dua kali pada 2019 mendatang. "Jadi, kita harus bersiap dengan kondisi moneter dunia yang cukup ketat, yang didorong oleh negara maju," terang dia.

Ketiga, risiko dari langkah proteksionisme yang dilakukan beberapa negara. Hal ini akan membuat hubungan kerja sama di sektor perdagangan antar negara menjadi lebih minim. Keempat, ada risiko dari konflik geopolitik yang masih terus berlangsung di Semenanjung Korea dan di Timur Tengah.

Selain dari empat risiko tersebut, Agus bilang, ada pula risiko bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berasal dari kerentanan sistem keuangan global. Hal ini ditunjukkan dari perbandingan antara harga saham dengan laba bersih perusahaan (Price Earning Ratio/PER) Indonesia yang masih rendah. 

"Saat ini, PER Indonesia 14,5 persen. Padahal, negara lain, seperti Brazil, Argentina, AS, PER-nya sudah tergolong tinggi. Kalau ada koreksi tentu akan berdampak pada sektor keuangan," katanya.

Hal lain ditunjukkan pada jumlah utang korporasi non keuangan dan rasio utang terhadap pendapatan (Debt to Service Ratio/DSR) yang cukup tinggi. "Untuk itu, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga perlu diwaspadai," imbuhnya.

Sementara, dari sisi domestik, Agus melihat, risiko terbesar berasal dari pertumbuhan indikator konsumsi rumah tangga yang menurun tahun ini. Sebab, indikator ini menjadi yang terbesar kontribusinya kepada pertumbuhan ekonomi.

"Ini satu hal yang perlu disikapi. Ini jadi perhatian. Kami harapkan, Indonesia ke depan masih bisa mendapatkan kontribusi besar dari konsumsi rumah tangga, maka harus diperhatikan," pungkasnya. (bir)