Kekurangan Pilot, Garuda Indonesia Klaim Sudah Mediasi

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 23/01/2018 19:11 WIB
Garuda Indonesia mengklaim telah berkomunikasi dengan serikat pekerja mengenai keluhan para karyawan, salah satunya soal kekurangan pilot. Garuda Indonesia mengklaim telah berkomunikasi dengan serikat pekerja mengenai keluhan para karyawan, salah satunya soal kekurangan pilot. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengklaim telah melakukan beberapa kali berkomunikasi dengan Serikat Pekerja (SP) Garuda Indonesia Bersatu mengenai keluhan para karyawan terkait kebijakan dan kinerja perusahaan, salah satunya soal kekurangan pilot.

Direktur Operasi Garuda Indonesia Triyanto Moeharsono mengatakan, beberapa keluhan dari SP telah dikerucutkan oleh kedua belah pihak dan tengah dicari jalan keluarnya. Misalnya, mengenai masalah Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

"Saya pikir sudah mulai mengerucut. Artinya, apa yang diinginkan sudah kami kembalikan sesuai aturannya, tapi ini butuh waktu. Artinya in process, sehingga saya pikir tidak berapa lama lagi, kami akan in line dengan apa yang diharapkan," jelas Triyanto dalam konferensi pers di kawasan Thamrin, Selasa (23/1).



Pihak manajemen mengatakan, akar utama permasalahan PKB berasal dari perubahan jam kerja dan istirahat bagi jabatan pilot. Hal ini lantaran perusahaan tengah kekurangan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga perusahaan bernegosiasi dengan Asosiasi Pilot Garuda (APG) untuk mengurangi waktu libur pilot.

"Jadi kami negosiasi, 'Boleh tidak kami kurangi dulu 1 hari lah? Misalnya dalam sebulan. Tentunya dengan kompensasi.' Alhamdulillah, mereka juga berkontribusi dengan baik, mereka setuju untuk melakukan ini untuk perusahaan," terangnya.

Triyanto menambahkan, masing-masing pilot memiliki jatah libur sebanyak 8 hari dalam sebulan. Namun, dengan penyesuaian ini, maka jatah libur tinggal 7 hari dalam sebulan. Jadi, dengan persetujuan dari pihak pilot, maka manajemen tetap memberlakukan aturan baru itu.

Masalah kekurangan SDM terjadi karena proses pembentukan tak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Sementara, perusahaan tengah menambah armada dan rute penerbangan, sehingga mengambil keputusan pengurangan jatah libur pilot.


"Perusahaan melakukan ekspansi yang cukup besar, ini tidak dibarengi dengan penyediaan SDM. Sedangkan memang butuh waktu untuk mencetak penerbang itu satu tahun," katanya.

Namun, menurutnya, manajemen tidak menerima keluhan bahwa pihak SP keberatan dengan penambahan armada dan masalah lain, misalnya karena kekurangan SDM, jadwal penerbangan kerap ditunda (delay).

"Tidak ada. Armada kami sesuaikan. Jadi kalau pertanyaan bahwa kenapa kami delay, kami tidak mau juga pesawatnya datang tapi kru belum siap," pungkasnya. (gir/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK