Tiga Perusahaan Eropa Disebut Ingin Borong IPO GMF Aero Asia

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Jumat, 22/09/2017 18:18 WIB
Tiga Perusahaan Eropa Disebut Ingin Borong IPO GMF Aero Asia PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyatakan, rencananya investor strategis itu akan mengempit saham sebesar 10 persen pasca IPO. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyebut, saham anak usahanya, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia tengah diminati tiga perusahaan asal Eropa jelang pelaksanaan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO).

Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala Mansury menjelaskan, IPO GMF Aero Asia dijadwalkan pada bulan Oktober mendatang. Rencananya, salah satu dari tiga perusahaan tersebut akan diseleksi untuk menjadi investor strategis GMF.

Pahala menjelaskan, rencananya investor strategis itu akan mengempit saham sebesar 10 persen pasca IPO. Namun, angka ini pun dianggap masih belum pasti.


"Tiga-tiganya sudah melakukan financial dan operation due diligence di GMF," papar Pahala ditemui di Jakarta Convention Center, Jumat (22/9).


Ia melanjutkan, satu dari tiga perusahaan tersebut sudah meneken Letter of Intent (LoI), yakni Air France Industries KLM Engineering and Maintenance (AFI KLM E&M). Sementara itu, ia enggan menyebut nama dua perusahaan lainnya karena masih dalam pembicaraan.

Adapun, saham yang dijual ke calon investor strategis ini bukanlah saham baru, melainkan saham lama yang dijual dengan harga di atas harga penawaran umum perdana. Untuk itu, saat ini perusahaannya tengah meminta izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait permintaan tersebut.

"Yang sudah tandatangan LoI baru satu, yang dua sisanya masih dibuka kesempatan," jelasnya.

Pahala melanjutkan, IPO GMF terbilang cukup menarik karena pertumbuhan operasionalnya diklaim cukup bagus dan potensi pasarnya menjanjikan. Apalagi menurutnya, maskapai Indonesia sudah memesan 600 pesawat untuk masuk ke Indonesia dalam jangka waktu lima hingga tujuh mendatang.

Hari ini, terang Pahala, GMF akan melakukan tutup buku untuk menentukan harga penawaran saham perdana GMF. Ia optimistis harganya bisa baik karena minat secara kasat mata terlihat menjanjikan.

"Hari ini kami akan bahas demand yang ada, tapi belum bisa disampaikan. Kalau lihat minat masyarakat dari dalam dan luar negeri, ini cukup baik. Kalau lihat fundamental kinerjanya, pertumbuhannya sangat bagus, margin ke depan juga bagus, karena industrinya masih alami pertumbuhan signifikan," jelasnya.

Setelah IPO selesai, perseroan akan menggunakan dana itu untuk menyokong pendanaan bagi anak-anak usaha Garuda Indonesia.


"Tapi, tidak untuk bayar utang. Rasio debt to equity [utang terhadap ekuitas] di bawah 2,5 kali, jadi masih sangat memadai. Tidak ada kebutuhan mendesak untuk pembayaran utang," pungkas Pahala.

Melirik laporan keuangan perseroan per semester I 2017, saat ini Garuda Indonesia mengempit saham GMF Aero Asia 99,99 persen. Dalam IPO nanti, GMF Aero Asia akan melepas 20 persen kepada publik, sehingga total saham yang dilepas perusahaan nanti berjumlah 30 persen.

Total aset GMF hingga 30 Juni 2017 sendiri berada di angka US$452,3 juta dengan saldo utang bank sebesar US$6,04 juta.