Garuda Indonesia Ditaksir Rugi Rp2,9 Triliun di 2017

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Rabu, 24/01/2018 06:55 WIB
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk diperkirakan menutup kinerja bisnis 2017 dengan kerugian mencapai US$219,58 juta atau setara Rp2,96 triliun. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk diperkirakan menutup kinerja bisnis 2017 dengan kerugian mencapai US$219,58 juta atau setara Rp2,96 triliun. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk diperkirakan menutup kinerja bisnis 2017 dengan kerugian mencapai US$219,58 juta atau setara Rp2,96 triliun (dengan asumsi kurs rupiah Rp13.500 per dolar AS).

Estimasi ini muncul lantaran kerugian maskapai nasional itu sekitar US$222,04 juta atau setara Rp2,99 triliun secara tahun kalender (year to date/ytd) sepanjang Januari-September 2017.

Di sisi lain, perhitungan sementara, perusahaan pelat merah ini mampu mengantongi laba sebesar US$2,46 juta atau setara Rp33,21 miliar di kuartal IV 2017.



Kendati begitu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Helmi Iman Satriyono berharap, total kerugian perusahaan masih bisa ditekan bila seluruh hasil audit keuangan telah dirampungkan.

"Kuartal IV 2017 belum bisa diumumkan, perhitungan masih berjalan. Tapi kami melihat improve-nya (perbaikan) besar. Kami berharap pengurangan (beban kerugian) yang cukup signifikan selama semester II, sehingga lost (kerugian) bisa kami tekan," ujar Helmi di konferensi pers di kawasan Thamrin, Selasa (23/1).

Sepanjang Januari-September 2017, kerugian berasal dari pembayaran pajak dalam rangka program pengampunan pajak (tax amnesty) mencapai US$137 juta atau Rp1,84 triliun.

Lalu, ada pula kerugian yang berasal dari denda hukum internasional dari otoritas Australia kepada perusahaan terkait persaingan usaha kargo dengan nilai mencapai US$8 juta atau Rp108 miliar. Sisanya, kerugian berasal dari operasional dan lainnya.

Untuk tahun ini, perusahaan menargetkan bisa menekan kerugian dengan peningkatan pendapatan operasional. Sementara, target pendapatan tahun ini dibidik pada angka US$4,9 miliar atau Rp66,15 triliun.

Untuk mencapai target ini, Helmi menyatakan, perusahaan telah menyiapkan sejumlah langkah. Pertama, meningkatkan layanan. Kedua, meninjau kembali manajemen keuangan. Ketiga, meninjau beberapa rute penerbangan agar lebih efisien.


"Kami perlu rute banyak, makanya kami perlu jaga supaya bagaimana rute itu memberikan kontribusi terhadap pendapatan Garuda," katanya.

Keempat, mengubah jadwal kedatangan pesawat yang telah dipesan sekitar dua hingga tiga tahun. Kelima, meningkatkan kembali efisiensi mulai dari penyewaan pesawat hingga dari sisi pengeluaran untuk bahan bakar.

Keenam, memaksimalkan kontribusi dari anak usaha. Helmi menjelaskan, kontribusi anak usaha, seperti PT Citilink Indonesia, PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk, dan lainnya ditargetkan tembus 24 persen. (gir/gir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK