100 HARI ANIES-SANDI

Tugiyo, DP Nol Rupiah dan Harapan untuk Anies-Sandi

Agustiyanti & Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 24/01/2018 15:35 WIB
Tugiyo, DP Nol Rupiah dan Harapan untuk Anies-Sandi Animo masyarakat terhadap proyek rumah DP nol persen terlihat tinggi dari banyaknya kunjungan ke rumah contoh. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tugiyo (40) sudah lama mendamba ingin memiliki rumah sendiri di Jakarta. Program uang muka (down payment/DP) nol rupiah yang dijanjikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno pun menjadi asa bagi Tugiyo untuk mewujudkan mimpinya.

"Saya ingin menggunakan kesempatan ini (program DP nol rupiah) untuk memiliki rumah. Selama ini kan masih mengontrak," ungkap Tugiyo saat meninjau proyek Klapa Village, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (24/1).

Mendengar kabar sudah mulai diluncurkannya proyek rumah DP nol rupiah, Tugiyo pun bergegas melihat langsung ke lokasi. Dari rumah kontrakannya di wilayah Bambu Apus, Tugiyo mencoba menyambangi proyek Klapa Village di kawasan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur.


"Aksesnya cukup strategis, ada angkot," terang dia.

Namun, harapan Tugiyo terpaksa pupus. Kendati rumah susun yang ditawarkan tak mengenakan uang muka, cicilannya terbilang berat bagi Tugiyo yang bekerja sebagai pegawai salah satu Apotik.

Tugiyo ternyata juga tak memenuhi syarat sebagai pembeli karena masih memiliki penghasilan di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta.

Selain itu, Tugiyo juga mengaku, selama ini menghabiskan biaya Rp1 juta untuk membayar kontrakan. Biaya tersebut, bahkan sudah termasuk biaya listrik. Sementara itu, rumah susun DP nol rupiah, ditawarkan dengan cicilan Rp1,2 juta per bulan untuk tipe 21 meter persegi dan Rp2,1 juta per bulan untuk tipe 36 meter persegi.


"Informasinya belum jelas, apa dikenakan bunga atau tidak? Kalau iya berapa bunganya?" ungkap dia.

Memiliki rumah sendiri juga menjadi harapan Canisa (26). Perempuan yang berprofesi sebagai guru swasta ini belum lama berumah tangga dan masih tinggal di rumah orang tuanya yang berada di daerah Cipinang, Jakarta Timur. Ia pun menaruh harapan pada program DP nol rupiah untuk memiliki rumah.

Menurut Canisa, harga yang ditawarkan di kisaran Rp185 juta untuk tipe 21 meter persegi dan Rp320 juta untuk tipe 36 meter persegi cukup terjangkau. Berbeda dengan Tugiyo, Canisa memenuhi persyaratan terkait penghasilan.


"Kalau semua sudah jelas, saya mau ambil tipe 36 meter," ungkap Anisa.

Sayangnya, kendati sudah menyambangi langsung lokasi proyek, informasi yang diperoleh Anisa terkait rumah DP nol rupiah masih minim dan belum memuaskan. Anisa mengaku belum mengetahui jelas, seperti apa konsep pembiayaan rumah tersebut. Salah satu konsen Anisa, adalah apakah pembiayaan rumah tersebut bisa dilakukan dengan skema syariah.

"Apa ini nanti riba atau tidak belum jelas. Saya cari yang tidak riba," kata dia.

Spesifikasi Rumah

Tugiyo dan Canisa hanya dua dari ratusan orang yang sudah mendatangi langsung proyek pertama program rumah DP nol rupiah tersebut. Di lokasi proyek tersebut, disediakan rumah contoh yang disediakan PD Sarana Jaya sebagai salah satu pengembang, untuk dapat dilihat masyarakat umum.

Salah satu petugas PD Pembangunan Sarana Jaya yang bertugas di rumah contoh tersebut menyatakan, animo masyarakat begitu tinggi sejak rumah contoh itu dibuka pada Sabtu (20/1).

"Apalagi, kemarin sabtu-minggu, itu ramai sekali banyak yang lihat. Sampai mau jalan susah," kata petugas yang enggan disebut namanya.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com pada Selasa (23/1) pagi, belasan pengunjung terus berdatangan secara silih berganti untuk melihat satu unit yang dijadikan rumah contoh dengan tipe 36 meter persegi. PD Pembangunan Sarana Jaya terlihat sengaja menempatkan beberapa furnitur di dalam rumah untuk mempercantik ruangan.
Contoh Rumah DP Nol RupiahContoh Rumah DP Nol Rupiah (CNN Indonesia TV)
Rumah ini terlihat tidak memiliki sekat antara ruang makan, dapur, dan ruang bersantai atau ruang keluarga. Sekat di dalam rumah hanya ada untuk kamar anak dan kamar utama, serta kamar mandi.

Bila mengikuti desain yang digunakan dalam rumah contoh tersebut, masyarakat akan langsung diperlihatkan oleh meja makan dan dapur ketika memasuki rumah. Kemudian, tak jauh dari meja makan atau di bagian belakang rumah terdapat balkon.

Sementara itu, tepat di sebelah meja makan ada satu kamar mandi dengan kloset duduk dan shower. Kemudian, kamar anak berada di sebelah kamar mandi dan kamar utama berada di dekat balkon.

Sesuai dengan ukurannya, rumah bertipe 36 meter ini memang tak bisa dihuni oleh banyak anggota keluarga karena luasnya yang sempit. Bila ingin ideal, maka maksimal hanya ditempati oleh empat anggota keluarga.

Lihat juga:

Petugas tersebut mengatakan, pendaftaran penjualan rumah DP nol rupiah akan dimulai bulan April 2018 yang ditangani langsung oleh Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD).

Informasi yang diberikan petugas pun terbatas, hanya pada harga per unit, cicilan, dan syarat membeli rumah DP nol rupiah. Menurutnya, masyarakat perlu membayar Rp1,2 juta per bulan untuk unit rumah 21 meter dan Rp2,1 juta untuk ukuran 36 meter.

"Itu (cicilan Rp1,2 juta untuk tipe 21 dan Rp2,1 juta untuk tipe 36) selama 20 tahun. Jadi, harganya sekitar Rp185 juta untuk ukuran 21 meter, kemudian untuk ukuran 36 meter harganya Rp320 juta," terang petugas itu.

Ketika ditanyakan syarat, ia menekankan pembeli diutamakan bagi yang sudah menikah, pemilik Kartu Tanda Penduduk (KTP) DKI Jakarta, dan penghasilan di atas UMP dan maksimal Rp7 juta.

"Kemudian tidak punya rumah," imbuhnya.

Dengan besaran cicilan tersebut, uang yang harus dikeluarkan oleh masyarakat untuk tipe 21 sebesar Rp288 juta, sedangkan untuk tipe 36 sebesar Rp504 juta.

Rencananya, hunian Klapa Village akan dibangun dengan konsep rumah susun atau apartemen berlantai 20. Ini sedikit berbeda dengan konsep yang semula diusung Anies-Sandi yang sebelumnya menyebut akan membangun rumah lapis yang berlantai kurang dari delapan dan mengedepankan konsolidasi tanah.

"(Rumah lapis) intensitasnya rendah. Kalau rumah susun bisa sampai lantai 16," ujar Sandi.

Pada tahap pertama, akan dibangun empat tower pada proyek hunian tersebut. Namun, tidak semuanya diperuntukkan bagi program DP nol rupiah. Tiga tower, akan digunakan untuk skema komersial.

Pembangunan tahap pertama akan dimulai pada awal tahun ini dan ditargetkan rampung pada pertengahan 2019 mendatang.


Namun, pemda sendiri menyebut, bakal ada dua tower untuk program tersebut. Tower kedua, akan dibangun di tahap kedua. Untuk membangun kedua tower tersebut, menurut Anies, dibutuhkan dan Rp400 miliar.

Dua tower ini akan diisi 703 unit. Dengan rincian 513 unit seluas 36 meter berisi dua kamar, serta 190 unit seluas 21 meter dengan satu kamar.

Program FLPP

Anies sebelumnya menjelaskan, program ini bakal menggunakan skema Fasilitas Likuiditas Perumahan Pembiayaan (FLPP) yang sudah dialankan pemerintah pusat. Lewat skema FLPP, masyarakat dapat menikmati bunga tetap sebesar lima persen dengan jangka waktu pinjaman hingga 20 tahun.

Lewat program DP nol rupiah, pemprov DKI Jakarta, menurut Anis, bakal menyubsidi uang muka sebesar satu persen.

Dirjen Pembiayaan Perumahan Lana Winayanti Kementerian PUPR Lana Winayanti menuturkan, pemerintah sebenarnya dalam program FLPP tidak mengatur uang muka. Pasalnya, menurut dia hal tersebut sangat bergantung pada kemampuan debitur.

"Jadi urusan DP diserahkan kepada masing-masing bank. Seluruh bank harus mengikuti peraturan BI dan OJK. Sebagai info, sebenarnya DP satu persen adalah gimmick BTN (bank penyalur KPR FLPP terbesar), bukan pemerintah," terang dia.

Sesuai aturan BI, tipe rumah yang ditawarkan pada hunian Klapa Village, untuk tipe 36 sebenarnya wajib dikenakan uang muka sebesar 10 persen. Namun, aturan BI juga mengecualikan ketentuan uang muka bagi KPR untuk program pemerintah pusat maupun daerah.

Saat ini, pemerintah pusat melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebenarnya juga tengah mengembangkan rusun murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Pembangunan rusun tersebut rencanaya akan dibangun di dekat Stasiun Pondok China, Tanjung Barat, Senen, Manggarai, dan Juanda dengan menggabungkan konsep rusun murah dan apartemen komersial.


Menteri BUMN Rini Soemarno sebelumnya ingin harga yang ditawarkan rusun murah BUMN hanya sebesar Rp7 juta per meter persegi. Harga ini masih lebih murah dari harga hunian DP nol rupiah di Klapa Village yang dipatok Rp8,8 juta per meter persegi.

Skema pembiayaannya juga sama, menggunakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). KPR rusun tersebut nantinya akan disediakan oleh BTN.

Sementara itu, hingga kini belum ada kejelasan bank yang akan menyelenggarakan program DP nol persen. Pasalnya, jika hanya mengandalkan Bank DKI, kuota bank tersebut menyalurkan FLPP sangat terbatas.

Insentif Bagi Pengembang

Ketua Real Estate Indonesia (REI) DKI Jakarta Amran Nukman menjelaskan, subsidi yang diberikan Pemprov DKI Jakarta untuk progam rumah tersebut, diberikan kepada masyarakat Jakarta, bukan pengembang. Ia pun mengaku, pengembang tak cari untung dari proyek rumah susun tersebut.

"Nantinya pengembang mencari untuk dari rusun komersial (yang dibangun di wilayah yang sama)," ungkap dia.

Namun, ia berharap, pemprov DKI Jakarta dapat memberikan insentif, berupa tambahan koefisien lantai bangunan (KLB) tanpa biaya dan terobosan kemudahan perizinan.

"Rumah susun sederhana bersubsidi adalah program milik pemerintah. Sukses tidaknya program ini terpulang kepada pemerintah, tapi kami bersedia membangun," ungkap dia.

Saat ini, menurut Amran, masyarakat Jakarta yang belum memiliki rumah layak berdasarkan sebuah studi, mencapai 300.000 keluarga. Ia pun optimistis, masyarakat Jakarta akan sangat antusias menyambut program tersebut.

"Biasanya, masyarakat akan berusaha 'mati-matian' untuk bisa mencicil beli rumah di pinggir (luar) Jakarta. Nah, ini rusunnya di wilayah Jakarta, jadi tentu menarik," jelas dia.


(bir)