Kenaikan tersebut terjadi, dipicu oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang sehat dan ekspektasi tertahannya produksi oleh kesepakatan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia, dan sekutunya.
Dilansir dari Reuters, Rabu (24/11), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup menanjak US$0,9 atau 1,4 persen menjadi US$64,47 per barel. Sebelumnya, harga WTI sempat mencapai US$64,89 per barel pada 16 Januari 2018 lalu, yang merupakan level tertingginya sejak Desember 2014.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga minyak mentah berjangka mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan setelah perkiraan angka persediaan minyak mingguan AS yang dirilis oleh Asosiasi Perminyakan Amerika (API) menunjukkan kenaikan mengejutkan sebesar US$4,8 juta barel pada stok minyak mentah AS pekan lalu.
Hasil jajak pendapat analis yang digelar oleh Reuters memperkirakan, persediaan akan berkurang 1,6 juta barel.
Namun demikian, harga minyak berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,82 menjadi US$64,39 per barel, tak jauh dari harga penutupan, seiring reli kenaikan harga minyak mentah.
"Hal ini mungkin akan menumpulkan reli kenaikan harga dan membuang sebagian kelebihan (harga) keluar dari pasar," ujar Lebow.
Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun ini dan tahun depan dari 3,7 persen menjadi 3,9 persen pada Senin lalu (22/1). Hal ini dapat meningkatkan permintaan terhadap produk minyak di tengah upaya pemangkasan produksi yang dilakukan oleh OPEC, Rusia, dan beberapa negera produsen lainnya.
Sebagai catatan, kesepakatan pemangkasan produksi sebesar 1,8 juta barel tersebut telah berjalan sejak Januari 2017 dan akan berakhir pada akhir 2018.
Sasaran utama dari kebijakan pemangkasan produksi OPEC adalah untuk mengurangi kelebihan pasokan global dan menyeimbangkan pasar kembali. Terdapat sejumlah ekspektasi bahwa OPEC akan membiarkan kesepakatan tersebut kedaluwarsa pada akhir 2018. Namun, produsen minyak besar belum menunjukkan bahwa upaya pemangkasan produksi tersebut akan berakhir.
Produksi minyak Venezuela sedikit turun sebesar 2 juta bph pada tahun lalu, di bawah ekspektasi 2,5 bph. Badan Energi Internasional menyatakan, produksi akan terus turun pada 2018.
"Enam bulan lalu, konsentrasi banyak terarah pada seberapa cepat produksi (minyak AS) dapat tumbuh namun hal itu telah diimbangi oleh volatilitas Venezuela,"ujar Direktur Pelaksana Analisis BTU Analytics Tony Scott di Denver.
Toni menambahkan, dengan produksi minyak dari Arab Saudi dan Iran yang kemungkinan akan tetap stabil sepanjang tahun, akan sulit untuk melihat kenaikan pasokan bakal mengganggu reli kenaikan harga minyak. (agi)