Pertamina Kirim Kapal Pengangkut BBM ke Karimunjawa

Damar Sinuko, CNN Indonesia | Kamis, 01/02/2018 19:24 WIB
Pertamina Kirim Kapal Pengangkut BBM ke Karimunjawa pertamina mengirimkan kapal pengangkut BBM ke Karimunjawa lantaran pulau yang terletak di utara Jawa Tengah itu mengalami krisis sepekan lebih. (CNN Indonesia/Damar).
Semarang, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) akan mengirimkan kapal pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Karimunjawa untuk memasok kebutuhan masyarakat setempat. Hal ini terkait krisis BBM yang dialami masyarakat setempat lebih dari sepekan di utara pulau di Kota Jepara tersebut.

Saat ini, kapal pengangkut BBM tersebut sudah disiagakan di dua pelabuhan, yakni di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, dan Pelabuha Jepara. Kapal yang berangkat dari Semarang memiliki kapasitas mengangkut BBM hingga 120 kilo liter (KL). Sementara, kapal dari Jepara berkapasitas 80 KL.

"Kami siagakan dua kapal di lokasi berbeda, yakni di Semarang dan Jepara,” ujar Andar Tri Lestari, Manajer Komunikasi dan Relasi Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV Jawa Tengah.



Penempatan kapal BBM di Semarang dan Jepara ini dilakukan sebagai langkah cepat untuk mensuplai kebutuhan BBM di Karimunjawa yang saat ini terhalang cuaca buruk dan gelombang tinggi laut.

Sejak 10 Januari 2018 lalu, kapal pengangkut BBM sudah disiapkan dengan muatan BBM berupa Pertalite 65 KL, Bio Solar 45 Kl, Dexlite 5 KL, total 115 KL. 

"Ini sebagai langkah cepat, kalau dari Semarang belum diijinkan untuk berlayar oleh Syah Bandar, maka kami punya alternatif diberangkatkan dari Jepara. Tapi sayangnya, sampai saat ini, dua kapal tersebut belum diijinkan berangkat semua oleh Syah Bandar masing-masing. Di tengah laut, cuacanya sangat ekstrem", imbuh Andar.


Krisis BBM di Karimunjawa yang terjadi lebih dari sepekan ini menuai kritik  sejumlah kalangan yang mempertanyakan kinerja Pertamina MOR IV Jateng-DIY. 

Selain dari Lembaga Perlindungan Konsumen, kritik juga datang dari anggota DPRD Jawa Tengah dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Pasalnya, kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi laut selalu terjadi setiap Januari-Februari, sehingga seharusnya perusahaan minyak pelat merah itu sudah melakukan sejumlah persiapan jauh-jauh hari sebelumnya. (bir)