Angka itu tercatat hanya 0,15 persen dari total ekspor kumulatif 2017 yang mencapai US$168,73 miliar. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai, pencapaian ekspor ini merupakan transisi yang baik untuk semakin ekspansi ke pasar nontradisional pada 2018 ini.
“Kami harap, momentum ini akan berlanjut di tahun 2018 ini,” jelas Enggartiasto di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (31/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu pun dengan negara Asia Selatan. Pertumbuhan ekspor ke India tercatat 41,56 persen sepanjang tahun lalu dan diikuti Pakistan sebesar 21,89 persen.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo sendiri berharap Kemendag bisa meningkatkan ekspor ke negara-negara nontradisional untuk mendongkrak daya saing ekspor di tingkat Asia Tenggara.
Sebab, kinerja ekspor Indonesia dianggap masih lemah dibanding negara tetangga. Dalam hal ini, ia mencontohkan Thailand dengan nilai ekspor US$231 miliar atau Malaysia dengan nilai ekspor US$184 miliar.
“Indonesia terlalu monoton mengurus pasar-pasar tradisional. Sudah bertahun-tahun Indonesia ditingal negara lain yang mulai mengintevensi pasar-pasar baru. Indoensia tidak pernah menengok Pakistan misalnya, penduduknya 207 juta, dibiarkan tidak diurus. Bangladesh misalnya, penduduknya 160 juta, ini pasar besar,” jelas dia. (lav/bir)