Kemenhub Diminta Perbanyak Transportasi Umum Berbasis Rel

SAH, CNN Indonesia | Jumat, 02/02/2018 09:18 WIB
Kemenhub Diminta Perbanyak Transportasi Umum Berbasis Rel Menteri PPN/Bappenas Bambang Broedjonegoro meminta Kementerian Perhubungan mendorong penyediaan transportasi umum berbasis rel di perkotaan. (ANTARA FOTO/ Atika Fauziyyah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Broedjonegoro meminta Kementerian Perhubungan mendorong penyediaan transportasi umum berbasis rel di perkotaan.

Menurut Bambang, saat ini sudah 52 persen penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan, sehingga kebutuhan akan transportasi massal meningkat.

Ia menegaskan, Indonesia sudah sangat tertinggal dalam hal transportasi massal. Hal itu menyebabkan kemacetan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya.



"Saya ingin mendorong Kemenhub untuk fokus ke transportasi massal perkotaan berbasis rel," ujar Bambang si Gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (1/2).

Bambang menambahkan, pembangunan transportasi berbasis rel seperti Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT) harus terus berkelanjutan.

"Oke lah mulai dengan Bus Rapid Transit (BRT), tapi jangan keterusan. Harus ada sekuens langkah berikutnya yang berbasis rel tadi," ujarnya.

Ia mengimbau kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk terus memperkuat Direktorat Jendral Perkeretaapian, karena banyaknya proyek transportasi berbasis rel. Dia menyebutkan, seperti LRT Jakarta Bogor Depok Bekasi (Jabodebek), LRT Palembang, Medan, Bandung, MRT Jakarta, dan Trem di Surabaya.

Lebih lanjut, menurut dia, kemacetan tidak hanya bisa diselesaikan dengan membuat infrastruktur jalan.


Ketimpangan Karena Kurangnya Konektivitas

Di sisi lain, Bambang mengatakan, saat ini tingkat ketimpangan penduduk Indonesia masih sangat tinggi. Hal itu salah satunya karena tingkat konektivitas di daerah yang masih kurang.

Ia mencontohkan, di daerah Bengkulu tingkat konektivitasnya masih sangat rendah, sehingga Bengkulu menjadi terlihat miskin dan terpencil karena terisolasi dengan daerah lainnya. Banyak desa di sana, kata Bambang, yang tidak mempunyai jaringan konektivitas yang baik.

"Salah satu faktor penyebab ketimpangan adalah konektivitas yang belum bisa membuat beberapa daerah di Indonesia mengejar ketertinggalannya dan mengurangi ketimpangan dengan Jawa," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2019 Kemenhub mendorong program pengembangan konektivitas pada daerah tertinggal.

Ia menyatakan, Kemenhub mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan pengurangan kesenjangan antar wilayah melalui penguatan konektivitas dan kemaritiman.

"Untuk itu dibutuhkan peran serta Kemenhub melalui program prioritas pembangunan daerah afirmasi melalui percepatan pembangunan daerah tertinggal dan kawasan perbatasan," ujarnya.
(lav/lav)