Direktur Utama XL Axiata Dian Siswarini mengatakan, pihaknya berencana merilis lini usaha baru tersebut pada kuartal II tahun 2018. Dalam tahap awal, perusahaan akan menjalin mitra terlebih dahulu dengan perusahaan lain untuk mempermudah operasional.
"Lebih cepat bermitra kalau bangun sendiri menggalinya akan memakan waktu lebih lama," ungkap Dian, Jumat (2/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dalam lima tahun ke depan mungkin bisa sampai US$500 juta biayanya," jelas Dian.
"Ya bisa M&A (merger dan akuisisi), bisa joint venture (JV)," kata Dian.
Sejauh ini, Dian mengaku telah berbicara dengan beberapa perusahaan demi merealisasikan rencana tersebut. Ia belum dapat memastikan berapa lama proses m&a ini akan rampung.
"Tergantung, waktu Axis saja tiga tahun. tergantung dari sana nya," sambung Dian.
XL Terbuka untuk Merger
Merespons rumor rencana merger beberapa perusahaan telekomunikasi, Dian mengklaim pihaknya terbuka untuk merger dengan perusahaan telekomunikasi lainnya. Namun, manajemen mengaku regulasi saat ini belum dapat menjamin kepemilikan frekuensi setelah akuisisi dilakukan.
"Belum ada regulasi untuk merger dan akuisisi yang baru sehingga bisa memberikan jaminan kalau kami merger apakah kami bisa jaga spektrum," ujar Dian.
Tanpa kepastian itu, XL Axiata tak berani mengambil risiko. Pasalnya, Dian menyebut aset terbesar sebuah perushaana telekomunikasi merupakan frekuensi. Maka dari itu, perusahaan telah memberikan usulan kepada pemerintah terkait aturan merger dan akuisisi untuk perusahaan telekomunikasi.
"Kalau kami beli frekuensi dan frekuensi harus dikembalikan kan kasian," imbuhnya.
Seperti diketahui, baru-baru ini tersiar kabar rencana merger yang akan dilakukan oleh beberapa perusahaan telekomunikasi, seperti PT Indosat Tbk (ISAT), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), Hutchison 3 Indonesia (Tri). (lav/bir)