Rambah Bisnis TV Kabel, XL Axiata Rogoh Kocek US$500 Juta

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Jumat, 02/02/2018 18:23 WIB
Rambah Bisnis TV Kabel, XL Axiata Rogoh Kocek US$500 Juta PT Xl Axiata Tbk (EXCL) merogoh kocek hingga US$500 juta atau setara Rp6,5 triliun untuk pengembangan lini bisnis baru berupa tv berbayar. (CNN Indonesia/Gautama Padmacinta).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Xl Axiata Tbk (EXCL) merogoh kocek hingga US$500 juta atau setara Rp6,5 triliun untuk pengembangan lini bisnis baru berupa tv berbayar. Dana itu merupakan kebutuhan jangka panjang hingga lima tahun mendatang.

Direktur Utama XL Axiata Dian Siswarini mengatakan, pihaknya berencana merilis lini usaha baru tersebut pada kuartal II tahun 2018. Dalam tahap awal, perusahaan akan menjalin mitra terlebih dahulu dengan perusahaan lain untuk mempermudah operasional.


"Lebih cepat bermitra kalau bangun sendiri menggalinya akan memakan waktu lebih lama," ungkap Dian, Jumat (2/2).


Untuk tahap awal ini perusahaan akan menggunakan 10 persen dari belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan tahun ini sebesar Rp7 triliun. Artinya, XL Axiata akan mengalokasikan dana sekitar Rp700 miliar untuk awal mula bisnis tersebut.

"Kalau dalam lima tahun ke depan mungkin bisa sampai US$500 juta biayanya," jelas Dian.

Sayangnya, ia masih enggan menyebut nama perusahaan yang akan bekerja sama untuk mengembangkan bisnis tv kabel. Perseroan juga enggan menjelaskan skema pengembangan bisnis baru tersebut, baik merger dan akuisisi ataupun skema modal ventura dengan perusahaan lain guna memaksimalkan bisnis tv kabel.

"Ya bisa M&A (merger dan akuisisi), bisa joint venture (JV)," kata Dian.

Sejauh ini, Dian mengaku telah berbicara dengan beberapa perusahaan demi merealisasikan rencana tersebut. Ia belum dapat memastikan berapa lama proses m&a ini akan rampung.

"Tergantung, waktu Axis saja tiga tahun. tergantung dari sana nya," sambung Dian.


XL Terbuka untuk Merger

Merespons rumor rencana merger beberapa perusahaan telekomunikasi, Dian mengklaim pihaknya terbuka untuk merger dengan perusahaan telekomunikasi lainnya. Namun, manajemen mengaku regulasi saat ini belum dapat menjamin kepemilikan frekuensi setelah akuisisi dilakukan.

"Belum ada regulasi untuk merger dan akuisisi yang baru sehingga bisa memberikan jaminan kalau kami merger apakah kami bisa jaga spektrum," ujar Dian.

Tanpa kepastian itu, XL Axiata tak berani mengambil risiko. Pasalnya, Dian menyebut aset terbesar sebuah perushaana telekomunikasi merupakan frekuensi. Maka dari itu, perusahaan telah memberikan usulan kepada pemerintah terkait aturan merger dan akuisisi untuk perusahaan telekomunikasi.

"Kalau kami beli frekuensi dan frekuensi harus dikembalikan kan kasian," imbuhnya.

Seperti diketahui, baru-baru ini tersiar kabar rencana merger yang akan dilakukan oleh beberapa perusahaan telekomunikasi, seperti PT Indosat Tbk (ISAT), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), Hutchison 3 Indonesia (Tri). (lav/bir)