Chatib menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di tahun ini akan ditunjang oleh pertumbuhan ekspor dan daya beli masyarakat yang membaik.
"Ekspor, kalau harga batu bara bertahan di US$80 sampai US$90 per metrik ton dan harga CPO bagus, maka pertumbuhan di 2018 bisa lebih baik dibandingkan tahun lalu," papar Chatib setelah acara Seminar Disrupsi Digital, di Jakarta, Selasa (5/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padat karya tunai, di mana orang kerja kemudian dikasih uang tunai. Kelompok yang miskin itu tidak akan bisa menabung, kalau dia punya uang tunai pasti dia akan belanjakan," terangnya.
"Kemudian, Kandidat presiden itu di September sudah bisa announce, jadi efek dari spending itu akan membantu untuk mendorong daya beli," ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun lalu sebesar 5,07 persen. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,2 persen. (agi)