BI 'Pede' Pertumbuhan Ekonomi Tahun Lalu Sentuh 5,1 Persen

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 02/02/2018 18:52 WIB
BI 'Pede' Pertumbuhan Ekonomi Tahun Lalu Sentuh 5,1 Persen BI menaikkan proyeksinya terhadap pertumbuhan ekonomi tahun lalu, yakni dari 5,05 persen menjadi 5,1 persen, karena ketahanan ekonomi nasional lebih baik. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun lalu berada di kisaran 5,1 persen. Proyeksi ini di atas perkiraan yang telah dibuat bank sentral pada tahun lalu, yaitu 5,05 persen.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengatakan, tren pertumbuhan ekonomi selama tiga tahun terakhir terus menanjak. Hal ini menandakan mulai pulihnya perekonomian domestik. Sebagai catatan, pada 2015 lalu, perekonomian Indonesia mampu tumbuh 4,79 persen. Kemudian, mendaki menjadi 5,02 persen di 2016.

“Perekonomian yang lebih resilient (ketahanan ekonomi nasional yang lebih baik),” ujarnya di Kompleks Masjid BI, Jumat (2/2).



Indikator membaiknya ketahanan ekonomi Indonesia tercermin dari terjaganya tingkat inflasi, kurs rupiah yang stabil, dan neraca pembayaran yang masih surplus.

Tahun lalu, tingkat inflasi tercatat 3,61 persen secara tahunan. Kemudian, volatilitas kurs rupiah juga berada di kisaran tiga persen atau turun dari tahun sebelumnya, 8 persen. Sementara, neraca pembayaran diklaim surplus US$11,8 miliar.

Selain itu, defisit transaksi berjalan (CAD) juga terjaga di kisaran 1,8 persen terhadap Pendapat Domestik Bruto (PDB) atau hampir sama dengan pencapaian tahun sebelumnya.


Jika prediksi BI terbukti, pertumbuhan ekonomi di kuartal IV setidaknya mencapai 5,32 persen atau melejit dari periode yang sama tahun sebelumnya, 4,94 persen. Tercatat, realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I, II, dan III masing masing sebesar 5,01 persen, 5,01 persen, dan 5,06 persen.

Tahun ini, bank sentral memperkirakan ekonomi akan tumbuh lebih baik dibandingkan dari tahun lalu di kisaran 5,1 hingga 5,5 persen seiring membaiknya perekonomian global.

Pihaknya menyambut baik revisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini yang dirilis Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi 3,9 persen, naik 0,2 persen dari proyeksi sebelumnya. Revisi tersebut dipicu oleh reformasi perpajakan di Amerika Serikat (AS) dan perbaikan indikator perekonomiannya.


"Indonesia harus mengambil kesempatan (perbaikan ekonomi global) Ini karena Indonesia berpeluang untuk meningkatkan ekonominya kalau perekonomian dunia membaik," katanya.

Di saat yang sama, Indonesia juga tetap harus waspada, mengingat peningkatan tekanan inflasi di AS bakal memicu kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS lebih cepat.

Kenaikan suku bunga acuan sendiri tak hanya terjadi di negeri Paman Sam, tetapi juga di negara maju. Secara teori, jika suku bunga acuan negara maju naik, maka ada risiko keluarnya aliran modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) baru akan mengumumkan secara resmi angka pertumbuhan ekonomi tahun lalu pada Senin (5/2) depan. (bir)