Moody's Tahan Rating Baa3 untuk Utang Pemerintah RI

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Selasa, 06/02/2018 17:44 WIB
Moody's Tahan Rating Baa3 untuk Utang Pemerintah RI Moody's Investors Service menetapkan profil utang Pemerintah Indonesia di peringkat Baa3 positif, didukung oleh defisit fiskal yang sempit dan rendahnya utang. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Moody's Investors Service menetapkan profil utang Pemerintah Indonesia di peringkat Baa3 positif, didukung oleh defisit fiskal yang sempit, rendahnya utang pemerintah, ukuran ekonomi yang besar dan prospek pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang sehat.

Namun, Analis Moody's Anushka Shah menyatakan terdapat tantangan kredit meliputi mobilisasi pendapatan yang rendah dan ketergantungan pada pendanaan eksternal. Selain itu juga faktor-faktor yang mengekspos ekonomi dan keuangan pemerintah terhadap fluktuasi dalam kondisi pembiayaan global.

"Prospek positif pada peringkat sovereign mencerminkan pandangan Moody's bahwa kerentanan eksternal berkurang, dan efektivitas kebijakan membaik," tulisnya dalam keterangan resmi, Selasa (6/2).



Laporan Moody's mengatakan bahwa prospek pertumbuhan di Indonesia tetap stabil, dengan kenaikan PDB riil cenderung berkisar sekitar 5,2 persen-5,3 persen secara tahunan. Hal itu didukung oleh konsumsi swasta yang stabil dan kenaikan dalam pertumbuhan ekspor.

"Dalam beberapa tahun terakhir, perampingan bertahap dalam peraturan investasi yang kompleks di negara tersebut telah berubah menjadi perbaikan persepsi investor dan penjumlahan dalam pembentukan modal tetap, walaupun pertumbuhan investasi masih di bawah puncak," kata Anushka.

Selain itu, laporan Moody's juga menunjukkan bahwa kedisiplinan pemerintah terhadap pembatasan defisit fiskal membuat beban utang tetap rendah pada tingkat yang rendah. Namun, basis pendapatan yang sempit membatasi keterjangkauan utang.

"Harga komoditas yang lebih tinggi dari level bawah dan stabilitas lanjutan dalam pertumbuhan dan arus masuk investasi telah menghasilkan peningkatan dalam buffer (bantalan) imbas eksternal," ujar Anushka.


Namun, ia menilai ketergantungan Indonesia terhadap dana mata uang asing menghadapkannya pada perubahan dalam kondisi pembiayaan global, walaupun buffer eksternal lebih kuat dari pada 2008 atau sekitar waktu yang disebut taper tantrum pada 2013.

Moody's akan mempertimbangkan untuk mengerek jika Indonesia menunjukkan kemajuan lebih lanjut dalam mengurangi kerentanan eksternal secara berkelanjutan, sementara pada saat yang sama menunjukkan kekuatan kelembagaan yang meluas.

"Salah satu indikasi positif perkembangan ini adalah pengurangan ketergantungan pemerintah terhadap utang luar negeri," jelas Anushka. (bir)