Tekanan pada Dolar AS Tahan Penurunan Harga Minyak

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 14/02/2018 07:03 WIB
Tekanan pada Dolar AS Tahan Penurunan Harga Minyak Pelemahan kurs dolar hingga ke level terendah mingguan membuat investor tertarik membeli minyak mentah karena harganya menjadi relatif lebih murah (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia relatif tak bergerak pada perdagangan Selasa (13/2), waktu Amerika Serikat (AS). Sempat tergelincir di awal sesi perdagangan, harga minyak kembali menanjak setelah kurs dolar jatuh ke level terendah mingguan.

Harga minyak mentah berjangka Brent sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir namun padapukul 14:02 EST, Brent kembali naik US$0,11 menjadi US$62,7 per barel. Sementara, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) sedikit tergelincir US$0,09 ke level US$59,2 per barel.

Dilansir dari Reuters Rabu (14/2), pelemahan kurs dolar hingga ke level terendah mingguan membuat investor tertarik membeli minyak mentah karena harganya menjadi relatif lebih murah di mata investor yang memegang mata uang lain.


"Kita telah menjauh dari penurunan harga minyak mentah hari ini, dan Anda dapat dengan mudah melihat bahwa ini merupakan fungsi pelemahan dolar," ujar Direktur Energi Berjangka Mizuho Bob Yawger.

Sejak pasar modal mulai turun tajam di awal bulan ini, kenaikan harga minyak sejak awal tahun telah terhapus.


"Banyak orang yang berdoa bahwa jatuhnya harga minyak pekan lalu merupakan suatu anomali. Ketika pasar modal kembali pulih, pasar minyak mentah akan ikut pulih. Sejauh ini terlihat sedikit menyeramkan tetapi WTI belum akan jatuh," ujar Kepala Analis Teknis United-ICAP Walter Zimmerman.

Menurut Zimmerman, volume kontrak harus turun lebih banyak untuk memasuki pasar yang mengarah ke penurunan harga.

Badan Energi Internasional (IEA) yang berbasis di Paris menyatakan pasokan minyak global akan melampaui permintaan tahun ini. Hal ini menimbulkan ketakutan bahwa upaya untuk mengurangi persediaan tidak akan mencapai ekspektasi.

"Kita telah berada di bawah tekanan. Ini semua telah menjadi fungsi dalam laporan IEA," ujar Yawger.


IEA merevisi proyeksi permintaan global naik sebesar 7,7 persen. Meski demikian, kenaikan produksi, khusunya di AS, bisa lebih besar dari kenaikan permintaan.

Pada pekan lalu, produksi minyak AS berhasil menyalip produk Arab Saudi sebagi produsen minyak kedua terbesar di dunia.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) pekan lalu menyatakan produksi minyak AS diramal bakal melampaui 11 juta barel per hari pada akhir 2018, setahun lebih awal dari proyeksi yang dibuat bulan lalu.

Analis menyatakan, efek musiman juga bisa berpengaruh pada harga. "Kekuatan penggerak di balik rentannya harga minyak pada beberapa minggu ke depan berasal dari puncak musim perawatan kilang AS," ujar Ahli Strategi Komodita RBC Capital Markets Michael Tran dalam catatan risetnya. (agi/agi)