Dolar AS Perkasa, Harga Minyak Brent Loyo

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 21/02/2018 07:15 WIB
Dolar AS Perkasa, Harga Minyak Brent Loyo Harga minyak mentah Brent melemah, di bawah tekanan penguatan dolar AS pada perdagangan Rabu (20/2), waktu Amerika Serikat (AS). (REUTERS/Lucy Nicholson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah Brent melemah, di bawah tekanan penguatan dolar AS pada perdagangan Selasa (20/2), waktu Amerika Serikat (AS).

Sementara, harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) berhasil mencapai level tertingginya dalam dua minggu terakhir di tengah turunnya persediaan di hub penyimpanan utama dan ekspektasi bahwa produsen besar minyak dunia bakal memperpanjang kerja sama.

Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent mengakhiri sesi perdagangan dengan turun US$0,42 atau 0,6 persen menjadi US$65,25 per barel, setelah diperdagangkan di kisaran US$65,81 per barel hingga US$64,78 per barel.



Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,22 atau 0,4 persen menjadi US$61,90 per barel, seiring berakhirnya kontrak Maret. Harga WTI sempat reli ke level US$62,74 pada awal sesi perdagangan, tertinggi sejak 7 Februari 2018.

Kontrak minyak mentah AS yang paling aktif untuk pengiriman April naik US$0,24 menjadi US$61,79 per barel.

Penguatan dolar AS ke level tertinggi dalam enam hari menekan harga minyak dunia. Dolar AS yang semakin perkasa membuat harga minyak dan komoditas lain yang diperdagangkan dengan dolar AS menjadi relatif lebih mahal di mata pemegang mata uang lain.

Di sisi lain, Menteri Energi Uni Emirat Arab dan Presiden Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) Suhail al-Mazroi mengatakan pada Reuters bahwa OPEC dan negara produsen minyak lain, termasuk Rusia, akan membahas perpanjangan kerja sama untuk beberapa tahun ke depan pada pertemuan Juni mendatang untuk menghindari kejutan besar pada pasar.

Data dari perusahaan intelijen pasar Genscape menunjukkan bahwa persediaan di titik pengiriman AS Cushing, Oklahoma, turun 2,1 juta barel pada pekan lalu, berdasarkan pernyataan pedagang yang melihat data tersebut.

Kombinasi dari pipa baru yang mengalir dari hub ke Memphis, bersamaan dengan berkurangnya aliran minyak dari pipa KeyStone milik TransCanada, telah membuat persediaan minyak di Cushing menurun ke level terendahnya dalam tiga tahun terakhir.

Sebagai catatan, aliran minyak dari pipa Keystone menurun sejak terjadi kebocoran pada November 2017 lalu.

Analis perminyakan Commerzbank AG Carsten Fritsch menyatakan hari libur pada Senin lalu di AS untuk memperingati Hari Presiden AS telah menopang kinerja WTI dibandingkan Brent. Hal itu tercermin dari kenaikan pasar AS yang terjadi pada awal pekan ini.

Perbedaan harga menjaga diskon harga minyak mentah AS terhadap Brent mendekati level terendah dalam enam bulan setelah melebar hingga US$7 pada Desember 2017.

Jarak harga Brent terhadap WTI yang menyempit, yang berarti impor minyak mentah AS ke barat laut Eropa menjadi kurang menarik, khususnya bagi para penyuling minyak yang sedang melakukan perawatan berkala. Rentang harga untuk minyak di Laut Utara berada di titik terendah untuk beberapa bulan.

Rentang harga [Brent] telah menyempit. Ini lebih kepada harga WTI yang meningkat, sementara Brent relatif datar.Hal ini tidak membuat ekspor minyak ke luar AS menjadi menarik," ujar Manajer Portofolio Tortoise Capital Rob Thummel di Kansas City, Missouri.

Secara umum, pasar minyak dunia tetap ditopang oleh pembatasan pasokan yang dilakukan OPEC dan negara produsen lain. Pemangkasan produksi sebesar 1,8 juta barel per hari itu telah dilakukan sejak awal 2017 dan direncakan berakhir pada akhir tahun ini.


Kepala Riset OPEC Ayed Al Qahtani menyatakan kelebihan minyak di gudang penyimpanan telah menurun sejak tahun lalu menjadi 74 juta barel di atas rata-rata lima tahun. Sebagai pembanding, pada Januari 2017 terjadi surplus sekitar 340 juta barel.

"Diskusi terakhir oleh Komite Teknis Gabungan OPEC dan negara non OPEC menyimpulkan bahwa persedian minyak menghilang dengan laju yang lebih cepat dan pasar akan kembali seimbang antara kuartal II dan kuartal III," ujar Goldman Sachs dalam catatan hariannya.

Berdasarkan polling awal Reuters, persediaan minyak mentah AS kemungkinan akan kembali menanjak untuk empat minggu berturut-turut. Laporan stok minyak mentah mingguan sendiri baru akan dirilis pada Rabu dan Kamis pekan ini, waktu AS. (gir/gir)