Harga Minyak Kembali Merosot Terimbas Kenaikan Stok AS

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 31/01/2018 07:10 WIB
Harga Minyak Kembali Merosot Terimbas Kenaikan Stok AS Harga minyak dunia kembali merosot, dipicu oleh peningkatan produksi minyak mentah Negeri Paman Sam seiring aksi jual saham, obligasi, dan komoditas. (REUTERS/David Mdzinarishvili)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia kembali merosot pada penutupan perdagangan Selasa (30/1), waktu Amerika Serikat (AS). Penurunan itu dipicu oleh peningkatan produksi minyak mentah Negeri Paman Sam seiring penjualan saham, obligasi, dan komoditas oleh investor yang waspada.

Dilansir dari Reuters, Kamis (31/1), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret turun US$0,44 atau 0,6 persen menjadi US$69,02 per barel, setelah sempat menyentuh level terendah sesi perdagangan, US$68,4 per barel.

Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) terseret US$1,06 atau 1,6 persen menjadi US$64,5 per barel.



Perdagangan berjangka melemah pasca penutupan perdagangan setelah kelompok industri Institute Perminyakan Amerika (API) merilis data peningkatan stok minyak mentah sebesar 3,2 juta barel sepanjang pekan lalu.

Jika data Departemen Energi AS (EIA) yang dirilis hari ini, Rabu (31/1) waktu setempat juga menunjukkan kenaikan jumlah persediaan, hal ini akan mematahkan sentimen melorotnya stok yang telah terjadi selama 11 minggu berturut-turut.

Hasil jajak pendapat analis Reuters memperkirakan bakal terjadi peningkatan jumlah persediaan minyak mentah sebesar 100 ribu barel.

"Pasar jelas akan mendapatkan sejumlah pelemahan pasca penutupan yang akan dibawa hingga data EIA besok," ujar Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures Mike Sabo di Chicago.

Pelemahan tersebut, lanjut Sabo, dapat menyebabkan koreksi pada harga WTI yang telah menanjak sebesar US$10 selama 60 hari terakhir.

Saham blue-chip AS juga dibuka di bawah tekanan akibat lonjakan pada imbal hasil (yield) obligasi pemerintah dan penguatan kurs AS yang terjadi sebelumnya.

"Ada kekhawatiran bahwa ketika ada penurunan di pasar saham, hal itu akan membunuh argumen yang mengarah kenaikan (bullish) bahwa perekonomian kuat," ujar analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Selama dua hari terakhir, indeks saham AS merosot. Indeks Dow Jones Industrial Average terguling sebesar 352 poin, kejatuhan poin tercuram dalam perdagangan harian sejak Mei 2017. Hal ini akibat kenaikan yield obligasi dan penurunan di perusahaan kesehatan.


Dengan korelasi negatif antara harga minyak dan kurs dolar yang mencapai level terkuat dalam sebulan, bahkan juga sinyal kuat permintaan tak cukup untuk menahan aksi ambil untung menyusul kenaikan tertinggi harga minyak dalam tiga tahun terakhir yang terjadi pekan lalu.

Harga minyak yang memiliki hubungan terbalik dengan kurs dolar AS telah dibuktikan pekan ini. Semakin kuat kurs dolar AS, maka harga minyak menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Sebagai informasi, jumlah produksi minyak As telah sejajar dengan Arab Saudi, produsen minyak terbesar dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Hanya Rusia yang mampu memproduksi lebih banyak minyak dengan rata-rata 10,98 juta barel per hari pada tahun lalu. (gir/gir)