Analis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Ahmad Subhan menjelaskan, peningkatan produksi diperkirakan akan terjadi di tahun ini sejalan dengan strategi penanaman kembali (replanting) kelapa sawit yang diterapkan Indonesia dan Malaysia. Secara agregat, target replanting yang akan dilakukan Indonesia dalam lima tahun ke depan, akan meningkatkan produksi hingga dua kali lipat dari kondisi saat ini yang mencapai 210 ribu ha.
Strategi replanting, menurut dia, juga dijalankan oleh Malaysia yang secara agregat akan meningkatkan supply CPO untuk tahun 2018.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga CPO, menurut Subhan, diproyeksikan akan bergerak menjadi sekitar 2.620 ringgit Malaysia atau sekitar US$676,3 per ton di tahun ini, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya sebesar 2.807 ringgit Malaysia.
Sepanjang tahun lalu, harga CPO merosot sekitar 21 persen. Stok yang lebih tinggi di Malaysia di tengah lemahnya permintaan telah menekan harga.
Kendati demikian, kinerja industri sawit tercatat mulai membaik dibandingkan beberapa tahun silam. Pertumbuhan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) nominal yang cenderung membaik dalam 3 tahun terakhir menjadikan beberapa bank cukup yakin untuk kembali masuk ke sektor perkebunan.
"Bagi perbankaan, membaiknya kinerja sektor perkebunan yang ditopang peningkatan ekspor dan harga relatif CPO di pasar global, menjadikan sektor ini kembali menjadi salah satu sektor favorit penyaluran kredit," tambah Subhan.