Pangsa Pasar Sawit di Uni Eropa Masih Bergairah

Lavinda, CNN Indonesia | Rabu, 29/11/2017 07:20 WIB
Pangsa Pasar Sawit di Uni Eropa Masih Bergairah Uni Eropa menilai pangsa pasar ekspor komoditas minyak kelapa sawit Indonesia ke negara-negara anggota Uni Eropa masih terbuka lebar dan akan terus meningkat. (CNN Indonesia/Agustiyanti).
Jakarta, CNN Indonesia -- Uni Eropa menilai pangsa pasar ekspor komoditas minyak kelapa sawit Indonesia ke negara-negara anggota Uni Eropa masih terbuka lebar dan akan terus meningkat.

"Kami percaya bahwa bahwa Eropa akan terus terbuka lebar untuk pasar ekspor minyak kelapa sawit Indonesia." ujar EU Ambassador to Indonesia and Brunnei Darussalam Vincent Guerend saat menghadiri forum EU-Indonesia Business Dialogue (EIBD) di Jakarta, Selasa (29/11).

Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh pihak EU, porsi produk minyak kelapa sawit Indonesia di negara-negara Uni Eropa tercatat sebesar 43 persen atau setara 2,3 juta euro pada 2016.



Vincent juga menjelaskan, total impor minyak kelapa sawit Indonesia yang dilakukan oleh negara-negara anggota Uni Eropa semakin meningkat di tahun ini.

"Pada delapan bulan pertama di tahun ini, impor minyak kelapa sawit dari Indonesia meningkat sebesar 36 persen dari sisi total nilainya dan naik 19,1 persen dari sisi volume impornya. " terang Vincent.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan pangsa pasar (market share) minyak kelapa sawit Indonesia bagi negara-negara angota Uni Eropa lebih baik dibandingkan negara produsen minyak kelapa sawit lainnya.

Ia mengutarakan bahwa hingga saat ini, pangsa pasar minyak kelapa sawit Indonesia bagi negara-negara anggota Uni Eropa sudah mencapai 52,4 persen."Kami terus meningkatkan impor minyak kelapa sawit" imbuhnya.


Transaksi Sawit Alami 'Kemacetan'

Mengkilapnya impor minyak kelapa sawit juga dirasakan oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia Airlangga Hartanto. Ia juga mengaku bahwa pihaknya saat ini masih akan terus mendorong industri dan impor minyak kelapa sawit tersebut.

Kendati demikian, ia mengkhawatirkan sikap beberapa parlemen di negara-negara anggota Uni Eropa yang justru akan menjadi kendala untuk impor minyak kelapa sawit tersebut.

"Memang kalau kita lihat dari kelapa sawit memang ada kenaikan, ini saya rasa juga suatu positif. Hanya kita perhatikan parlemen-parlemen mereka tetap membikin resolusi-resolusi yang bisa mengganggu, jadi kita khawatirkan resolusi-resolusi itu nanti pada saat aktivitas daripada CEPA itu lebih mengganggu." terang Airlangga.

Sedangkan, dari sisi Uni Eropa lebih mengkhawatirkan hal-hal yang terkait dengan kebijakan bea masuk produk-produk minyak kelapa sawit tersebut. Vincent mengungkapkan bahwa melalui Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) nantinya beberapa tarif bea masuk akan diturunkan. (ditt)

(lav/lav)