Harga Beras Didorong Turun ke Level HET Sebelum Ramadan

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 01/03/2018 10:10 WIB
Harga Beras Didorong Turun ke Level HET Sebelum Ramadan Harga beras yang saat ini masih tinggi diharapkan dapat segera turun kembali ke level Harga Eceran Tertinggi (HET) menjelang bulan Ramadhan pada Mei mendatang. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap harga beras yang selama ini masih tinggi bisa segera turun menjelang bulan Ramadan yang jatuh di bulan Mei tahun ini. Ia berharap, harga beras bisa turun kembali sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga rata-rata beras medium saat ini sudah mencapai Rp12 ribu per kilogram (kg). Padahal, menurut Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017, HET beras ditetapkan sebesar Rp9.450 per kg hingga Rp10.250 per kg.

"Karena ini mau puasa, kasihan masyarakat. Makanya kami ingin harga kembali normal dan tidak aneh-aneh. Tidak aneh dalam artian tidak turun jauh sekali, misal kalau medium di kisaran Rp9.400 hingga Rp9.500 per kg," jelas Darmin ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (28/2).


Maka dari itu, pemerintah akan memperbesar pasokan agar harga beras di pasaran bisa turun tanpa ikut membuat harga gabah kering terkerek ke bawah. Dengan demikian, perubahan aturan fleksibiitas harga serapan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) memang diperlukan agar petani mau menjual gabah keringnya kepada pemerintah.


Darmin bilang, rencananya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) atas gabah kering akan diganti, yakni meningkat 20 persen dari ketentuan yang ditetapkan dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015. Sehingga, jika tadinya HPP Bulog untuk gabah kering panen dipatok Rp3.700 per kg, maka petani kini bisa mendapat Rp4.440 untuk setiap gabah kering panen yang dijual ke pemerintah per kilogramnya.

"Agar harga turun makanya kami minta Bulog melakukan fleksibilitas harga. Bulog juga masih ada stok 600 ribu ton, ini semuanya akan kami pakai untuk menurunkan harga beras. Intinya, kami masih ada instrumen untuk mendorong harga beras ini," imbuhnya.


Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi tercatat di angka 0,62 persen secara bulanan (month-to-month/mom) di bulan Januari 2018 yang didorong oleh inflasi beras. Hal itu tercermin dari angka inflasi bahan makanan di angka 2,34 persen di periode tersebut.

BPS juga mencatat kenaikan harga gabah petani sebesar 8,42 persen, beras grosir sebesar 3,7 persen, dan beras eceran di angka 6,25 persen sepanjang bulan Januari. (agi/agi)