Bulog Prioritaskan Beras Impor untuk Daerah Defisit Beras

SAH, CNN Indonesia | Jumat, 19/01/2018 15:31 WIB
Bulog Prioritaskan Beras Impor untuk Daerah Defisit Beras Bulog mengaku bakal memprioritaskan penyaluran beras impor ke daerah-daerah yang bukan penghasil beras, seperti Jakarta, Batam, Medan, dan Dumai. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Urusan Logistik mengaku bakal memprioritaskan penyaluran beras impor ke daerah-daerah yang bukan penghasil beras. Nantinya beras tersebut akan diturunkan langsung dari kapal ke pelabuhan-pelabuhan di daerah tersebut.

Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti menyebut, lokasi defisit beras terdiri dari Jakarta, Batam, Medan dan Dumai.

"Pelabuhan yang akan disinggahi adalah pelabuhan-pelabuhan yang non produsen beras," ujarnya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), Jakarta, Kamis (18/1).


Djarot menjelaskan, pihaknya saat ini sudah mulai melakukan pendekatan dengan pemerintah daerah yang diprioritaskan untuk mendapat penyaluran beras impor. Nantinya, menurut dia, beras impor tersebut akan terlebih dahulu disimpan di gudang milik Bulog hingga ada perintah untuk mendistribusikannya ke masyarakat.

"Supaya tidak tumpang tindih, diputuskan oleh Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) bahwa beras yang diimpor akan diminta disimpan dulu untuk menjadi cadangan oleh Bulog," jelasnya.


Hal itu, menurut dia, dilakukan guna mencegah terganggunya harga jual petani mendekati musim panen raya yang diprediksi pada Februari - Maret 2018.

Djarot menyebut, beras akan diimpor dari negara-negara seperti Vietnam, Thailand, Myanmar, Pakistan, dan India. Adapun anggaran untuk melakukan impor akan berasal dari dana internal bulog. Kendati demikian, ia tidak menutup kemungkinan, dana tersebut akan diganti oleh pemerintah nantinya.

"Dana memang dari internal Bulog, setelah barang itu datang tidak tertutup kemungkinan dana tersebut diganti oleh pemerintah dalam rangka dana cadangan beras pemerintah," imbuh Djarot.

Hanya saja Djarot tidak menyebutkan berapa jumlah pasti dana yang dikeluarkan oleh Perum Bulog untuk impor beras ini. Ia hanya menyebutkan asumsi harga beras impor per kilo Rp7000 dengan kuota 500 ribu ton. Berdasarkan hitungan kasar CNNIndonesia.com, dana yang dibutuhkan untuk impor beras sekitar Rp3,5 triliun.


Di sisi lain, Djarot mengatakan Izin untuk impor beras tersebut sudah diselesaikan oleh Bulog. Hari ini, kata Djarot ,sedang dilakukan tahap seleksi administrasi perusahaan eksportir yang mengajukan Bulog.

"Tahap pertama kan dilakukan seleksi administrasinya, semua orang yang daftar kan belum tentu bisa ekspor, kami seleksi apakah betul dia perusahaan, yang bener bagaimana dengan company profile-nya, performa ekspornya, terdaftar atau tidaknya di asosiasi di sana," papar Djarot.

Setelah itu, Bulog akan melakukan proses tawar menawar dengan perusahaan eksportir beras yang telah terseleksi. Dalam proses penawaran tersebut Bulog akan menegosiasikan harga dan waktu masuk beras impor tersebut.

"Kalau besok Clear, maka Senin buka Letter of Credit (LC)," imbuhnya. (agi/agi)