Ekonomi Indonesia Diramal Tumbuh 5,6 Persen Tahun Ini

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Senin, 05/03/2018 22:38 WIB
Ekonomi Indonesia Diramal Tumbuh 5,6 Persen Tahun Ini Ekonomi Indonesia yang diperkirakan mencapai 5,6 persen di tahun ini, terutama akan ditopang oleh menguatnya pertumbuhan investasi dan konsumsi masyarakat. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan finansial multinasional, UBS optimis dengan perekonomian Indonesia tahun 2018. Ekonomi Indonesia diperkirakan bisa tumbuh 5,6 persen ditopang oleh tingkat investasi dan konsumsi masyarakat.

Ekonom UBS Edward Teather memaparkan, prediksi tersebut memang lebih tinggi dibandingkan dengan target pemerintah yang tercatat di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 persen.

"Untuk investasi di Indonesia akan sangat didukung oleh kenaikan harga komoditas yang diekspor," ucap Teather, Senin (5/3).


Menurut dia, jumlah investasi di Indonesia menunjukan perbaikan beberapa waktu terakhir. Mengutip data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), jumlah investasi dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) tahun 2017 sebesar Rp692,8 triliun atau lebih tinggi dari target yang ditetapkan, yakni Rp678,8 triliun.

"Tingginya investasi menunjukan kepercayaan investor untuk mendorong konsumsi pada tahun 2018," ujar Teather.


Selain itu, pertumbuhan kredit perbankan juga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tahun ini. Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit sepanjang tahun lalu meningkat sekitar 8 persen (yoy) menjadi Rp4.782 triliun. Sementara itu, pada awal tahun 2018 atau tepatnya Januari kemarin pertumbuhan kredit hanya sebesar 7,4 persen (yoy).

"Tingkat pertumbuhan kredit sangat berpengaruh, terutama kredit ke sektor riil," jelas Teather.

Dengan pertumbuhan kredit di sektor riil, jumlah investasi yang dikucurkan oleh perusahaan otomatis semakin tinggi. Bisa dikatakan, penyaluran kredit dan jumlah investasi saling berkaitan satu sama lain.


Selanjutnya, UBS juga menilai inflasi Indonesia saat ini berada dalam kondisi stabil. Pada Februari 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,17 persen.

"Kenaikan beberapa harga seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak pengaruh, pemerintah akan tetap menjaganya agar stabil," kata Teather.

Ia menambahkan, ke depan, mata uang dolar Amerika Serikat (AS) juga diproyeksi melemah, sehingga akan membawa angin segar bagi rupiah.

"Dengan fundamental ekonomi yang baik, seharusnya rupiah menguat," ujar Teather. (agi/agi)